Undang-Undang AI 2025: Lindungi Budaya dan Kedaulatan Digital Vietnam
Nadir Media - Karena aktivitas kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar rekomendasi etis tetapi kini telah dilegalkan secara resmi, maka muncul "filter" yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan digital.
Dalam konteks di mana model bahasa skala besar dari perusahaan teknologi global mendominasi, pengenalan regulasi (dalam hukum AI) yang memprioritaskan pengembangan AI untuk bahasa Vietnam dan bahasa etnis minoritas dipandang sebagai "perisai" yang melindungi budaya nasional.
Pada saat yang sama, mekanisme pertanggungjawaban hukum yang ketat juga menimbulkan tantangan baru bagi komunitas bisnis teknologi domestik.
Mengatasi masalah "bias budaya" di era kecerdasan buatan.
Salah satu poin penting dari kerangka hukum baru ini adalah prioritas yang diberikan pada pengembangan model bahasa khusus untuk penutur bahasa Vietnam, termasuk bahasa-bahasa etnis minoritas.
Berbicara kepada seorang reporter dari surat kabar Dan Tri, pakar teknologi Truong Duc Luong, Ketua Dewan Direksi Vietnam Cyber Security Joint Stock Company (VESC, G-Group), menilai bahwa ini adalah kebutuhan nyata dan keinginan bersama banyak negara di seluruh dunia untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada platform lintas batas.
Bapak Truong Duc Luong menganalisis bahwa saat ini terdapat polarisasi yang jelas antara perusahaan teknologi besar (Microsoft, Google, Anthropologie dari AS) dan perusahaan AI dari Tiongkok, serta kebutuhan domestik masing-masing negara. Melegalkan dan memprioritaskan pengembangan AI dalam bahasa Vietnam dan bahasa etnis minoritas bukan hanya tentang teknologi; tetapi juga tentang melestarikan budaya dalam skala yang berbeda.
"Ketika kita menggunakan alat asing, bahasa sering kali diproses melalui lapisan perantara, seperti bahasa Inggris. Hal ini menyulitkan AI untuk memahami kedalaman budaya, dialek, atau nuansa ekspresif unik dari masyarakat Vietnam," ujar Ketua VESC.
Pakar tersebut memberikan contoh: "Sebagai contoh, dengan kata-kata dalam bahasa Vietnam yang memiliki banyak arti, seperti kata 'má' (yang dapat berarti ibu di Selatan atau bagian wajah di Utara), AI domestik, jika mereka menguasai data tersebut, akan memprosesnya jauh lebih akurat daripada alat AI asing."
Secara khusus, bagi kelompok etnis minoritas seperti Muong, kemampuan AI untuk berkomunikasi dalam bahasa mereka sendiri akan membantu melestarikan keragaman etnis dan memungkinkan mereka mengakses teknologi dengan lebih aman.”
Di mana ada budaya, di situ ada kedaulatan. Menguasai bahasa secara langsung adalah cara paling efektif untuk melindungi kedaulatan digital.




