Tanda-Tanda Kemunduran Amerika Serikat Menuju 2030
Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi global Amerika Serikat (AS) yang telah berlangsung sejak akhir Perang Dunia II kini menghadapi berbagai tantangan serius. Setelah sekian lama bertindak sebagai kekuatan utama yang mengatur tatanan ekonomi dan politik dunia melalui Pax Americana, posisi hegemoni Negeri Paman Sam dinilai sedang berada di titik nadir.
Para pengamat internasional mencatat bahwa usaha AS untuk memaksakan ideologi dan sistem kapitalisme justru berbalik menjadi bumerang, memicu kekecewaan di berbagai belahan dunia. Di tengah fokus Washington yang terpecah akibat berbagai konflik di Timur Tengah, negara-negara baru seperti China mulai muncul sebagai kekuatan yang siap menggeser posisi AS sebagai pusat utama dunia.
Walaupun AS masih memiliki kekuatan yang sangat besar dan berperan sebagai polisi dunia dalam bidang ekonomi dan politik, terdapat kerentanan yang signifikan. Banyak negara mulai menunjukkan ketidaksukaan terhadap dominasi AS, dan ada keinginan untuk melihat keruntuhan negara yang didirikan pada 1776 ini.
Persepsi Global Terhadap AS
Ketidakpuasan ini terlihat dalam konteks perang dan konflik. Menurut buku The New Rules of War: Victory in the Age of Durable Disorder (2019), perang setelah 1945 tidak hanya terlokalisasi dalam satu negara, melainkan melintasi batas-batas politik. Hal ini disebabkan oleh sentimen kebangsaan dan keagamaan yang dapat menjangkau lintas negara.
AS masih berpegang pada strategi perang konvensional, di mana kemenangan diukur dengan menghancurkan militer dan pemimpin musuh. Namun, pendekatan ini gagal mengatasi akar ideologis yang tetap eksis, yang justru menjadi penyebab munculnya kelompok-kelompok ekstremis seperti ISIS. Aksi terorisme yang dilancarkan oleh kelompok ini terhadap Barat, terutama AS, menunjukkan bahwa kemenangan yang dicapai AS seringkali bersifat semu.
Prediksi Kemunduran AS
Sejak tahun 1970-an, berbagai prediksi tentang kemunduran AS mulai mencuat, dan semakin menguat pada abad ke-21. Menurut Nicholas Kitchen dan Michael Cox dalam artikel mereka di Cambridge Review of International Affairs (2019), agresi militer dan model kapitalisme AS telah mengecewakan banyak negara di dunia.
Selain itu, model kapitalisme yang sebelumnya dominan kini dianggap merusak politik, menghambat pertumbuhan, dan melemahkan daya tarik AS di tatanan global. Dalam konteks ini, kebangkitan China menjadi semakin jelas, berkat fokus negara tersebut dalam berdagang dan memperluas pengaruhnya, sementara AS terjebak dalam konflik yang berkepanjangan.
Data dari IMF menunjukkan bahwa pada tahun 2000, Produk Domestik Bruto (PDB) China hanya menyumbang 7% dari total PDB dunia. Namun, pada tahun 2020, angka tersebut melonjak menjadi hampir 19%, sementara PDB AS justru menurun dari 20% menjadi 16% dalam periode yang sama.
Gejala-gejala Kemunduran
Sejarawan AS, Alfred McCoy, juga memperkirakan bahwa kenaikan harga, stagnasi upah, dan pudar daya saing internasional akan menjadi tantangan bagi AS. Menurutnya, pada tahun 2025, kekuatan AS akan mulai compang-camping, dan pada tahun 2030, dolar AS diprediksi akan kehilangan statusnya sebagai mata uang dunia, yang berujung pada hilangnya hegemoni AS.
Tanda-tanda kemunduran ini mulai terlihat dengan adanya sejumlah negara yang mulai menjauhi AS. Proses dedolarisasi mulai terjadi, di mana negara-negara dalam kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Di sisi lain, hubungan internasional juga menunjukkan perubahan signifikan, seperti perbaikan hubungan antara Arab Saudi dan Iran yang dimediasi oleh China.
Tindakan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang mengusulkan agar Eropa mengurangi ketergantungan pada AS, menyoroti keinginan untuk menciptakan 'otonomi strategis' di Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa AS mulai dilupakan, bahkan oleh sekutunya sendiri, dalam konteks tatanan global yang terus berubah.




