Rupiah Berisiko Melemah Akibat Ketidakpastian Global
Sumber Foto: JPNN.com
Nadir Fokus

Rupiah Berisiko Melemah Akibat Ketidakpastian Global

Jakarta - Ekonom dari Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa nilai tukar rupiah berisiko untuk terus melemah seiring dengan ketegangan yang berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat-Israel. Ketidakstabilan ini, menurutnya, dapat memicu gejolak di pasar keuangan, yang akan berdampak negatif pada mata uang rupiah.

Josua menjelaskan bahwa pergantian kepemimpinan di Iran menambah ketidakpastian di wilayah tersebut, yang dapat membuat pasar semakin terguncang akibat potensi konflik yang berkepanjangan. "Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan terhadap dolar AS dan mengurangi alokasi dana di negara berkembang, sehingga pemulihan rupiah menjadi sulit," ujar Josua.

Pada hari Senin, 9 Maret, rupiah tercatat melemah mencapai Rp 16.990 per dolar AS, seiring dengan harga minyak yang melampaui USD 100 per barel. Josua menuturkan bahwa langkah stabilisasi yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) sangat penting untuk meredam gejolak dan mencegah pelemahan rupiah berlanjut secara tidak teratur.

Namun, ia menekankan bahwa langkah-langkah tersebut mungkin tidak cukup untuk membalikkan tren pelemahan selama ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak, dan arus modal global masih menjadi faktor penghambat. Sebelumnya, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada bulan Februari dengan fokus pada penguatan stabilisasi rupiah.

Bank sentral juga meningkatkan intervensi di pasar domestik dan internasional. Josua menambahkan, "Ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diterapkan oleh BI saat ini lebih ditujukan untuk meredam kepanikan dan memperlancar pergerakan rupiah, bukan untuk menjamin bahwa mata uang ini akan segera menguat kembali."