Roy Marten: Permintaan Cerai dari Istri Menunjukkan Titik Nadir dalam Pernikahan
Aktor senior Roy Marten baru-baru ini berbagi pandangannya mengenai kompleksitas pernikahan dan perceraian. Dalam wawancaranya, ia menyoroti perbedaan psikologis antara pria dan wanita dalam menghadapi krisis rumah tangga. Menurutnya, ketika seorang istri memutuskan untuk meminta cerai, hal tersebut mengindikasikan telah tercapainya titik krusial yang sulit untuk diubah.
Perbedaan Psikologis dalam Permintaan Cerai
Roy Marten, yang juga merupakan ayah dari Gading Marten, menjelaskan bahwa perempuan memiliki ambang batas kesabaran yang berbeda dibandingkan laki-laki. Ia menegaskan bahwa saat seorang istri secara tegas menyatakan keinginannya untuk bercerai, keputusan tersebut biasanya bukan merupakan luapan emosi sesaat, melainkan hasil dari pertimbangan yang matang.
"Kalau seorang perempuan sudah meminta cerai, biasanya tidak bisa dicegah. Biasanya ya," ungkap Roy Marten saat diwawancarai di Studio Brownis, Jalan Kapten P Tendean. Ia menambahkan bahwa dari sudut pandang psikologis, permintaan cerai dari seorang istri menunjukkan bahwa hatinya telah mencapai titik terendah, yang menurutnya disebut sebagai 'titik nadir'. Pada fase ini, segala upaya untuk menyelamatkan pernikahan sering kali menjadi sia-sia karena sang istri telah menutup diri.
Persepsi Roy Marten tentang Permintaan Cerai Pria
Di sisi lain, Roy Marten mengungkapkan bahwa psikologi laki-laki dalam konteks permintaan cerai cenderung berbeda. Ia berpendapat bahwa ucapan cerai dari pihak suami sering kali tidak sepenuhnya serius dan bisa jadi merupakan gertakan. "Kalau pihak laki-laki bilang mau cerai, biasanya enggak serius. Mungkin gertak, atau mungkin sudah bosan," jelasnya.
Metafora Pernikahan sebagai Anggur
Lebih lanjut, Roy Marten menggunakan metafora anggur untuk menggambarkan perjalanan pernikahan. Ia menyatakan bahwa kesiapan mental pasangan sangat penting untuk menghadapi tiga fase rasa yang mungkin muncul dalam pernikahan. "Pernikahan itu lambangnya anggur. Sifat anggur itu menyenangkan, kedua memusingkan, ketiga pemabuk," ujarnya, menggambarkan dinamika dan tantangan yang dihadapi dalam kehidupan berumah tangga.




