RINDU UGM: Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis IoT untuk Keberlanjutan
Sumber Foto: Tempo.co
Teknologi

RINDU UGM: Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis IoT untuk Keberlanjutan

RUMAH Inovasi Daur Ulang (RINDU) Universitas Gadjah Mada (UGM) disiapkan sebagai laboratorium hidup pengelolaan sampah skala mikro berbasis teknologi digital. Berlokasi di kawasan Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, fasilitas ini menjadi pusat integrasi riset, inovasi, dan layanan pengolahan sampah kampus dengan timbangan digital berbasis Internet of Things (IoT) sebagai tulang punggung sistem pemantauan.

Setiap hari sekitar delapan ton sampah dihasilkan dari aktivitas akademik dan nonakademik di kampus UGM. Untuk memastikan pengelolaannya presisi, tim peneliti memasang timbangan IoT di berbagai unit kerja. Data dikirim secara real time ke dashboard terpusat, sehingga memungkinkan evaluasi perilaku sivitas akademika sekaligus penyusunan kebijakan pengurangan sampah berbasis bukti.

“RINDU memang dirancang sebagai living laboratory dan learning center tempat teknologi, komunitas, dan kebijakan bertemu. Timbangan IoT menjadi instrumen utama untuk membaca dinamika sampah kampus,” kata dosen Teknik Kimia UGM sekaligus pemerhati lingkungan, Wiratni, Rabu malam, 25 Februari 2026.

Penguatan infrastruktur teknologi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo kepada perguruan tinggi untuk mengembangkan solusi pengolahan sampah yang aplikatif. Dukungan juga datang dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto yang meninjau langsung fasilitas RINDU dan PIAT beberapa waktu lalu.

Setelah tahap pemantauan digital, UGM mengembangkan pengolahan material bertingkat. Sampah organik diproses melalui komposting cepat dan budi daya maggot dengan rekayasa percepatan proses. Sementara residu nonorganik diolah melalui teknologi pelelehan dan karbonisasi menjadi bahan konstruksi ramah lingkungan, seperti papan, genteng, dan konblok, serta karbon padat untuk campuran pupuk.

Menurut Wiratni, teknologi karbonisasi dipilih karena lebih efisien dan rendah emisi dibandingkan skema waste-to-energy yang belum ekonomis pada skala kampus. “Konversi sampah menjadi solid carbon merupakan pilihan rendah karbon yang sejalan dengan misi keberlanjutan,” ujarnya.

RINDU kini tengah bertransformasi dari fasilitas riset eksperimental menuju instalasi berskala penuh yang ditargetkan mampu mengolah seluruh sampah internal UGM. Selain melayani kebutuhan kampus, RINDU juga diproyeksikan sebagai pusat inkubasi inovasi dan model replikasi bagi kawasan perkotaan.

Untuk memperkuat hilirisasi teknologi, UGM memperluas uji coba sistem ke Kelurahan Terban, Kota Yogyakarta. Data operasional berbasis IoT terus dikumpulkan guna menghitung biaya pengolahan per ton sampah sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan pengelolaan berkelanjutan. Model ini diharapkan menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan sampah skala mikro berbasis teknologi, riset, dan kolaborasi multipihak.