Respon Kubu Prabowo terhadap Usulan Tes Baca Alquran Calon Presiden
Sumber Foto: kontan.co.id
Nadir Fokus

Respon Kubu Prabowo terhadap Usulan Tes Baca Alquran Calon Presiden

KUBU Prabowo Subianto memberikan tanggapan terkait usulan tes baca Alquran bagi calon presiden yang diinisiasi oleh Ikatan Dai Aceh. Politikus Partai Gerindra, Andre Rosiade, menyatakan rasa terima kasihnya atas undangan tersebut, namun ia juga mengingatkan bahwa isu agama sebaiknya tidak diperdebatkan dalam konteks pemilihan presiden.

"Kami mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi undangan itu. Tapi saya rasa isu agama tak usah diperpanjang lagi, karena empat kandidat capres-cawapresnya Muslim semua," ujar Andre dalam keterangannya pada Minggu (30/12).

Andre menambahkan bahwa dengan semakin dekatnya debat capres-cawapres yang dijadwalkan pada 17 Januari 2019, sudah saatnya masyarakat disuguhkan dengan substansi program-program yang berkaitan dengan ekonomi dan kebutuhan masyarakat.

Lebih lanjut, kubu Prabowo tampaknya tidak akan memenuhi undangan untuk tes baca Alquran tersebut, dengan alasan bahwa Prabowo sedang bersiap untuk debat dan fokus pada sosialisasi program ekonomi. Selain itu, Faldo Maldani, juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, juga menilai bahwa ibadah adalah urusan pribadi yang tidak seharusnya dibawa ke ruang publik.

"Pastinya Pak Prabowo akan sangat sungkan kepada ulama-ulama yang keilmuannya lebih jauh tinggi. Tes baca Alquran adalah persoalan privat," ungkap Faldo.

Di sisi lain, pandangan mengenai tes baca Alquran tersebut menuai beragam tanggapan. Peneliti radikalisme dan gerakan Islam, Ridlwan Habib, menilai bahwa ajakan tersebut seharusnya ditanggapi positif oleh Jokowi dan Prabowo, karena tes baca Alquran bagi seorang calon pemimpin beragama Islam adalah hal yang wajar dan demokratis.

"Membaca Alquran adalah ibadah harian yang sangat lazim dilakukan oleh jutaan Muslim di Indonesia. Tes ini akan menambah kepercayaan masyarakat terhadap calon pemimpin," jelasnya.

Di sisi lain, intelektual muda NU, Nadirsyah Hosen, berpendapat bahwa tes baca Alquran tidak perlu dilakukan. Menurutnya, pemimpin seharusnya lebih fokus pada kemampuan mengadministrasikan keadilan sosial dalam program-programnya. Ia juga memberikan contoh sejarah tentang pemimpin yang tidak fasih membaca Alquran namun tetap mampu menjalankan pemerintahan dengan baik.

Gus Nadir menekankan pentingnya untuk tidak mempolitisasi agama dalam konteks pemilihan umum, dan mengajak semua pihak untuk lebih berfokus pada tindakan nyata yang dapat mensejahterakan rakyat.

Dalam diskusi ini, beberapa netizen juga memberikan pandangan mereka, termasuk satu pengguna yang berpendapat bahwa tidak hanya calon presiden, tetapi juga calon wakil presiden seharusnya mengikuti tes baca Alquran. Namun, Gus Nadir merespons dengan nada guyon untuk mengingatkan bahwa istilah dan konteks yang digunakan harus jelas dan tepat.