Resiliensi Masyarakat Sumatera di Tengah Bencana: Mencermati Kerugian Rp68 Triliun
Sumber Foto: Kupasonline.com
Nadir Fokus

Resiliensi Masyarakat Sumatera di Tengah Bencana: Mencermati Kerugian Rp68 Triliun

Sumatera baru saja menghadapi salah satu periode paling kelam dalam sejarah bencananya. Dari akhir November hingga Desember 2025, berbagai bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah ini, menyebabkan kerusakan yang meluas. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per awal Januari 2026, bencana ini merenggut 1.167 jiwa dan mengakibatkan hampir setengah juta orang terpaksa mengungsi ke tempat-tempat darurat.

Kerugian ekonomi yang ditimbulkan diperkirakan mencapai Rp68,67 triliun, menjadikannya salah satu kerugian terbesar yang pernah dialami Indonesia. Namun, di tengah kehancuran ini, muncul kekuatan yang tidak dapat diukur dengan materi: partisipasi aktif masyarakat.

Sinergi di Tengah Bencana

Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) dikoordinasikan oleh pemerintah melalui Basarnas, TNI, dan Polri. Namun, keberhasilan dalam mengurangi jumlah orang hilang juga sangat bergantung pada keberanian relawan dan keterlibatan masyarakat setempat. Masyarakat Sumatera menunjukkan bahwa mereka bukan hanya korban, tetapi juga subjek yang tangguh dalam menghadapi dan menangani bencana.

Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah kini diuji. Dengan distribusi logistik dari Posko Nasional BNPB di Halim Perdanakusuma yang mencapai 1.370 ton, peran masyarakat dalam memastikan bantuan ini sampai kepada mereka yang membutuhkan, terutama di daerah terpencil seperti Aceh Tenggara dan pedalaman Sumatera Barat, menjadi sangat penting. Pemulihan akses jalur logistik yang terputus juga tidak hanya bergantung pada alat berat Kementerian PUPR, tetapi juga pada bantuan navigasi dan tenaga lokal yang memahami kondisi geografis daerah mereka.

Ancaman Lingkungan yang Masih Ada

Secara teknis, BNPB, BMKG, dan TNI telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi intensitas hujan. Namun, masalah lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti deforestasi, tetap menjadi ancaman serius bagi Sumatera. Oleh karena itu, masyarakat perlu bertransformasi dari sekadar relawan saat bencana menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Kesadaran kolektif untuk berhenti merusak lahan dan menjaga hulu sungai merupakan bentuk nyata dari kepedulian terhadap negara. Tanpa adanya upaya pemulihan lingkungan yang serius dari masyarakat, infrastruktur yang baru dibangun akan menghadapi risiko bencana serupa di masa mendatang.

Optimisme di Awal Tahun 2026

Memasuki minggu pertama Januari 2026, ada harapan baru yang mulai tumbuh. Sekolah-sekolah dijadwalkan untuk dibuka kembali, menandakan pentingnya kelanjutan pendidikan meski dampak bencana masih terasa. Pemerintah berkomitmen untuk mempercepat proses pemulihan, namun pencapaian ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam upaya bangkit dari keterpurukan.