Rara Ubah Dukanya Jadi Konten Kreatif Melalui Sapijajan
RRI.CO.ID, Manokwari- Konten kreator pemilik akun Sapijajan, Miranti Pratiwi Lantah atau yang akrab disapa Rara, mengungkapkan bahwa awal terbentuknya Sapijajan berangkat dari pengalaman pribadi yang penuh duka. Ia mulai membuat konten saat mengalami masa depresi. Untuk mengalihkan pikiran, Rara mencoba menantang dirinya membuat video sederhana di sebuah tempat yang sedang grand opening, terinspirasi dari konten kreator di platform TikTok. Hal ini disampaikan Rara pada Rabu, 18 Februari 2026.
Video tersebut kemudian diunggah tanpa rencana menjadi konten kreator. Namun di luar dugaan, kontennya viral dan mendapat respons positif dari masyarakat. Sejak saat itu, Rara mulai konsisten membuat konten, apalagi ia mengaku memiliki kebiasaan stress eating atau makan saat stres. Kebiasaan tersebut akhirnya diarahkan menjadi aktivitas produktif hingga berkembang menjadi pekerjaan sebagai kreator konten kuliner dan gaya hidup.
Ia juga menjelaskan perubahan nama akun yang semula “cemalcemil.mkw”. Menurutnya, nama tersebut cukup panjang dan kurang mudah dicari audiens. Rara kemudian mencari nama yang lebih sederhana dan akhirnya memilih akronim “Sa Pigi Jajan” yang disingkat menjadi Sapijajan. Nama tersebut dinilai lebih dekat dengan masyarakat Indonesia Timur, sekaligus mencerminkan latar belakangnya yang lahir dan besar di Papua serta terbiasa dengan dialek setempat.
Dalam membangun identitas, Sapijajan memiliki brand image tersendiri. Rara berupaya agar audiens mengenali bahwa Sapijajan tidak hanya mengulas makanan, tetapi berbagai hal yang bisa dijajan, mulai dari kuliner, teknologi, hingga outfit. Ia menekankan bahwa branding sangat penting untuk membedakan Sapijajan dari kreator lain, dengan ciri khas utama berupa konten jajanan yang telah melalui proses kurasi dari berbagai tempat.
Selain menerima kerja sama endorsement, Rara juga kerap membantu mempromosikan produk UMKM tanpa bayaran. Ia sering mendatangi langsung pelaku usaha di Manokwari, terutama yang menjual produk sesuai minatnya, lalu membuat konten ulasan. Dalam memilih UMKM yang akan diulas, ia memiliki standar tertentu, seperti mencoba produk minimal tiga hingga tujuh kali, memastikan kebersihan terjaga, serta menilai konsistensi rasa dan pengemasan agar sesuai dengan yang diterima konsumen.Rara mengaku merasa terharu ketika melihat dampak kontennya bagi pelaku UMKM.
“Salah satu yang aku syukuri saat ini adalah teman-teman UMKM yang aku datangi kemudian Alhamdulillahnya tempat mereka ramai. Biasanya mereka menghubungi aku untuk mengucapkan terima kasih. Tapi aku sangat terharu kalau mereka chat panjang lebar karena itu tak ternilai, walaupun dibayar berapapun tidak akan bisa menggantikan rasa syukurku,” kata Rara.
Meski demikian, ia juga menghadapi tantangan dalam menjaga idealisme. Tidak jarang setelah datang jauh-jauh dan mengambil video, konten justru tidak diunggah karena tidak sesuai standar kejujuran yang ia pegang. Bahkan untuk endorsement, ia siap mengembalikan dana sepenuhnya jika hasilnya tidak layak dipublikasikan. Memasuki tahun 2026, Rara berkomitmen mencoba produk terlebih dahulu secara mandiri sebagai konsumen sebelum menerima kerja sama, serta membuka peluang kolaborasi dengan kreator lain, termasuk pemula di Manokwari maupun seluruh Indonesia.




