Ramadhan Sebagai Momentum Perlindungan Anak di Indonesia
Sumber Foto: ANTARA News
Sosial

Ramadhan Sebagai Momentum Perlindungan Anak di Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanulhaq mengajak segenap umat Islam di tanah air agar menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat perlindungan anak.

Menurut Maman dikutip di Jakarta, Jumat, Ramadhan bukan hanya berarti menahan lapar dan haus, melainkan juga waktu revolusi kasih sayang, terutama usai kemunculan sejumlah kasus kekerasan pada anak pada beberapa waktu terakhir seperti kasus bunuh diri anak SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur dan kasus pembunuhan ibu oleh putrinya di Medan, Sumatera Utara.

“Selamatkan anak Indonesia. Negara jangan diam. Hukum harus tegas. Keluarga harus hangat. Masyarakat harus peduli. Jangan tunggu tragedi berikutnya baru kita bergerak," kata dia.

Menurut dia, peristiwa-peristiwa kekerasan tersebut adalah alarm keras bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis perlindungan anak yang serius. Anak-anak, kata Maman, tidak hanya menghadapi tekanan akademik dan sosial, tetapi juga kekerasan, perundungan, trauma, dan kehilangan ruang aman untuk bercerita.

“Jangan buru-buru menyalahkan anaknya. Kita harus berani bertanya di mana negara? Di mana lingkungan? Di mana orang dewasa ketika mereka berteriak dalam diam?” ujarnya.

Maman lalu menegaskan bahwa banyak persoalan anak berakar pada pola asuh keras atau abai, relasi kuasa yang timpang, serta budaya tutup mulut terhadap kekerasan.

“Kita sering menyebut itu ‘mendisiplinkan’. Padahal itu melukai. Pemukulan, hinaan, ancaman, itu bukan pendidikan. Itu kekerasan. Dan kekerasan melahirkan luka yang bisa berubah menjadi tragedi,” kata dia.

Ia juga menyoroti anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Menurut dia, anak yang terlibat tawuran atau narkoba sering kali adalah korban lingkungan yang rusak.

Maman mengingatkan bahwa pendekatan terhadap anak harus mengedepankan diversi dan keadilan restoratif, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Selain itu, ia pun menyinggung ancaman eksploitasi seksual dan perdagangan anak yang semakin kompleks, termasuk melalui ruang digital.

“Anak-anak kita hidup di dunia yang tak sepenuhnya kita pahami. Kalau negara lambat, kalau orang tua abai, kalau sekolah tidak sigap, yang jadi korban adalah mereka,” ujarnya.

Oleh karena itu, pada Ramadhan ini ia mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan bulan suci sebagai titik balik.