Polisi Selidiki Dugaan Pelecehan Seksual oleh Konten Kreator Malang
MALANG, KOMPAS.com - Satuan Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Malang terus melakukan penyelidikan atas dugaan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh konten kreator asal Kabupaten Malang, IA yang baru-baru ini viral di media sosial.
Kasat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Malang, AKP Yulistiana Sri Iriana mengatakan sejauh ini ada satu saksi yang sudah dimintai diperiksa.
"Hanya saja, dari pemeriksaan kami belum mendapat keterangan yang utuh, hanya sebatas indikasi," kata Yuliastiana saat ditemui, Selasa (10/2/2026).
Oleh karena itu, ia masih berusaha memeriksa terduga korban, yang sebelumnya membuat pengakuan di media sosial.
"Dialah yang sebenarnya banyak tahu. Tapi sampai saat ini kami masih berusaha untuk melakukan penyelidikan terhadap korban ini, tapi ia masih terus menghindar," bebernya.
Yulis menduga, hal itu lantaran terduga korban merasa takut atau malu.
"Tapi berdasarkan informasi yang kami dapat, terduga korban tidak hanya satu orang, tapi ada beberapa orang. Oleh karena itu masih terus berusaha jemput bola mencari para terduga korban," bebernya.
Oleh karena itu, Yulis berharap para terduga korban ini agara pro aktif membantu penyelidikannya, agar kasus tersebut segera terungkap dengan terang.
"Imbauan kami, para terduga korban agara kooperatif, agar kasus ini segera terungkap secara terang, sekaligus agar kejadian serupa tidak terulang lagi," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang konten kreator asal Kabupaten Malang, IA dikaitkan dalam dugaan tindakan pelecehan seksual terhadap beberapa model perempuan atau muse yang dijadikan pemeran dalam konten akun youtubenya.
Salah satu terduga korban mengungkapkan pengalaman pahitnya melalui akun media sosialnya @sovinovitav.
"Hati-hati yah para muse, terutama muse Malang. Hati-hati dengan tawaran shooting atau butuh talent di daerah pondok pesantren atau daerah Pakis dengan tema 'sumpah pocong'," demikian tulisnya di akun media sosialnya.
Ia menceritakan kronologi kejadian sampai dirinya mendapatkan tindakan tidak menyenangkan itu, dari seorang yang diduga Gus Idris.
Mulanya, ia mengaku mendapat tawaran sebagai shooting dari seseorang pemilik akun Instagram @nana.portofolio.
Saat itu, dirinya mengira akan dijadikan model dalam sesi photoshoot MUA.
Namun, ternyata ia juga diminta untuk akting dalam sebuah konten video.
"Shooting di lokasi pertama di tempat penjualan hewan. Syok sedikit," ujarnya.
Sampai pada akhirnya, ia sempat mendapat doktrin berembel-embel agama.
Selanjutnya juga diminta untuk memijat seorang gus yang diduga Gus Idris, hingga sempat menyentuh bagian vitalnya.
"Dan di sini aku puter otak gimana caranya aku bisa keluar dari kamar sialam itu," jelasnya.
Menanggapi hal itu, Kuasa hukum IA, Guntur Putra Abdi Wijaya memastikan bahwa segala isu yang beredar di media sosial itu tidak benar.
"Terkait masalah yang viral itu, di mana adanya broadcast yang menggiring suatu opini yang menyatakan telah terjadi pelecehan seksual, itu tidak benar," ungkapnya, Jumat (6/2/2026).
Begitupun, berkaitan dengan adanya dugaan wanprestasi kepada beberapa model yang disewa, menurut Guntur juga tidak benar. Sebab, hal itu urusannya berkaitan dengan agensi.
"Hal ini urusannya sama agensi dan staf yang sudah kita berhentikan. Sehingga permasalahan ini kesimpulannya sebatas dugaan sementara," urainya.
Guntur menyayangkan penggiringan opini di media sosial yang mengarah pada pencemaran nama baik Gus Idris.
Ia berharap masyarakat tidak percaya begitu saja pada informasi-informasi yang belum jelas sumbernya.
"Saya harap masyarakat tidak mudah percaya pada penggiringan opini seperti itu. Kalau memang yang menyebarkan informasi itu sampai menjadi viral berdasarkan bukti yang konkret, pasti akan langsung melaporkan ke kepolisian, tapi sejauh ini belum ada laporan terkait dugaan pelcehan itu kan?" simpulnya.




