Perjuangan Orangtua Mengantar Anak Down Syndrome Menjadi Barista
Sumber Foto: Kompas.com
Sosial

Perjuangan Orangtua Mengantar Anak Down Syndrome Menjadi Barista

JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik secangkir latte dan senyum hangat para barista di Kafe Kopi Kamu Wijaya, ada perjalanan panjang orangtua yang tak pernah berhenti melatih, mendampingi, sekaligus menyiapkan anak-anak mereka menghadapi dunia kerja.

Ani (61) orangtua dari Ikhlas (23) Barista penyandang down syndrome (DS), masih mengingat betul bagaimana awal perkenalannya dengan komunitas orangtua anak dengan down syndrome.

Ia bergabung dengan Yayasan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS), yayasan yang mendampingi orang tua dan mengembangkan potensi anak dengan Down Syndrome melalui pusat informasi, pendidikan inklusif, hingga pelatihan minat dan bakat.

Di bawah naungan POTADS, ada Rumah Ceria Down Syndrome di Pejaten, Jakarta Selatan. Tempat itu bukan panti, melainkan ruang belajar dan kegiatan bagi anak-anak.

“Di Rumah Ceria ada kelas barista sejak 2018. Awalnya dua sesi dengan sekitar 10 anak,” ujar Ani saat ditemui Kompas.com di Kafe Kopi Kamu Jalan Wijaya I Nomor 62, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (19/2/2026).

Pandemi Covid-19 sempat menghentikan kegiatan tatap muka. Namun latihan tidak berhenti. Selama satu tahun, pembelajaran dilakukan secara daring.

Lihat Foto

Bahan dikirim ke rumah, guru memandu lewat komunikasi digital, dan anak-anak belajar menyeduh kopi manual tanpa mesin espresso.

“Latihan tidak boleh berhenti, karena daya ingat mereka cenderung pendek. Kalau tidak diasah terus, bisa mundur,” kata Ani.

Ia mencontohkan, pandemi membuat sebagian anak yang sebelumnya sudah lancar berbicara dan bersosialisasi mengalami kemunduran. Rutinitas yang terputus berdampak besar bagi perkembangan mereka.

Titik balik terjadi pada 2023, ketika POTADS mengikuti bazar dan bertemu dengan pengelola Kafe Kopi Kamu.

Dari percakapan sederhana soal “kalau mau beli kopi harus ke mana”, lahir kerja sama yang membuka ruang kerja tetap.

Oktober 2023, tujuh anak yang dinilai siap mulai belajar langsung di kafe selama dua bulan.

Pada 3 Desember 2023, bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional, mereka resmi bekerja dengan durasi awal 2,5 jam per hari, dua hari seminggu.

“Setelah viral, jadwal bertambah jadi tiga hari. Setelah Lebaran 2025, anak-anak jadi 10 orang dan bekerja empat jam per hari dari Senin sampai Sabtu. Ternyata mereka mampu,” ujar Ani.

Ketakutan dan Kepercayaan

Sebagai orangtua, Ani mengakui ada rasa takut di awal. Ia khawatir jika anak melakukan kesalahan yang merugikan usaha.

“Tapi kami juga ingin kemampuan anak meningkat. Kalau tidak diberi kesempatan, kapan lagi belajar?” kata dia.

Karakter setiap anak berbeda. Ada yang bisa membaca dan menulis, ada yang non-verbal. Di kafe, nomor meja diganti dengan gambar untuk memudahkan identifikasi. Ikhlas, putra Ani, termasuk yang bisa membaca dan menulis.

Perjalanan Ikhlas tidak mudah. Ia baru berjalan di usia dua tahun dan pernah menjalani operasi jantung.

Bagi Ani, melihat putranya kini mengenakan celemek barista adalah capaian yang dulu terasa jauh.

“Bisa bicara, bisa jalan, bisa bekerja, itu sudah luar biasa,” ucap dia.

Ia juga melihat perubahan sikap. Anak yang dulu sangat introvert kini berani menyalami tamu. Kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi meningkat.

Namun tantangan tetap ada. Anak-anak bisa tersinggung atau menangis jika diledek teman. Emosi harus terus diarahkan.

“Mereka punya perasaan, punya emosi. Tidak boleh dimanja berlebihan hanya karena dianggap istimewa,” ujar Ani.

Yang paling ia takutkan justru masa depan ketika orang tua sudah tidak ada. Karena itu disiplin, etika, dan batasan harus ditanamkan sejak dini.

Harapan Kemandirian dan Dukungan Negara

Ani berharap anak-anak bisa mandiri secara finansial. Ia menyebut sudah ada alumni yang membuka kafe kecil di rumah dengan dukungan keluarga.

Namun mobilitas masih menjadi tantangan. Rumah orang tua tersebar di Depok, Jakarta Timur, Jakarta Barat, hingga wilayah lain.

Fasilitas transportasi bagi penyandang disabilitas di Jakarta ada, tetapi jumlah dan jangkauannya terbatas.

“Kalau dukungan seperti antar-jemput kerja bisa diperluas, anak-anak punya kesempatan lebih besar,” kata Ani.