Pengalaman Oktovianus Maniani: Dilarang Penuhi Panggilan Timnas di Tengah Dualisme Kompetisi
Oktovianus Maniani, mantan pemain Timnas Indonesia, berbagi kisahnya tentang tantangan yang dihadapi selama masa dualisme kompetisi sepak bola Indonesia. Situasi tersebut membawa sepak bola Indonesia ke titik nadir, dengan dampak yang dirasakan hingga ke tim nasional.
Dalam periode tersebut, friksi antara pengurus PSSI menciptakan dualisme kompetisi yang memecah klub-klub menjadi dua kubu: Liga Primer Indonesia (LPI) dan Indonesian Super League (ISL). Dampak dari perpecahan ini juga dirasakan oleh Timnas Indonesia, yang terbelah menjadi dua skuad. Skuad Garuda di bawah PSSI dilatih oleh Nil Maizar, sementara tim nasional yang dibentuk oleh Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) dipimpin oleh Alfred Riedl.
Oktovianus Maniani, yang saat itu bermain untuk Persiram Raja Ampat di kompetisi ISL, mengungkapkan bahwa ia rela tidak dibayar demi membela nama baik Indonesia. "Kita punya tanggung jawab besar untuk tetap bermain 100% untuk negara meskipun sempat tidak dibayar. Karena saya punya tekad besar untuk membawa harum nama Indonesia," ungkapnya dalam sebuah wawancara.
Panggilan Timnas dan Larangan Manajer
Di tengah situasi yang rumit ini, Oktovianus Maniani menghadapi dilema ketika menerima panggilan untuk memperkuat Timnas Indonesia di bawah asuhan Nil Maizar. Meski mendapat larangan dari Manajer Persiram, Henry Wairara, ia tetap bertekad untuk mengikuti pemusatan latihan tim nasional.
"Saya ingin meminta maaf kepada Bos Henry Wairara, ketika itu dia melarang saya untuk memenuhi panggilan tim nasional," katanya. Meskipun awalnya menyatakan tidak akan berangkat, Oktovianus akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jakarta demi membela Timnas.
"‘Kau tidak boleh berangkat!’ katanya saat itu. Saya pun menjawab, ‘Siap, Bos. Saya tidak berangkat’. Padahal besoknya saya sudah tiba di Jakarta," kenangnya.
Risiko Demi Merah Putih
Pilihan Oktovianus untuk tetap memenuhi panggilan tim nasional meskipun harus melanggar larangan manajernya menunjukkan dedikasi dan cinta yang mendalam terhadap sepak bola Indonesia. Namun, situasi ini juga mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh banyak pemain di tengah ketidakpastian yang disebabkan oleh dualisme kompetisi.
Kisah Oktovianus Maniani menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pemain sepak bola harus menghadapi tekanan dan risiko demi membela negara mereka, sekaligus menggambarkan kondisi sulit yang melanda sepak bola Indonesia pada masa itu.




