Pemkot Bontang Siapkan Anggaran untuk Cegah Bunuh Diri Anak
BONTANG, NOMORSATUKALTIM - Kasus bunuh diri yang dilakukan bocah berinisial YBR, siswa kelas IV di salah Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perhatian banyak pihak, termasuk Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang.
Pemkot Bontang tidak ingin tindakan yang dilakukan bocah yang baru berusia 10 tahun ini terjadi di Kota Taman.
Anak itu akhirnya mengakhiri hidupnya karena diduga orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.
“Kondisi itu sangat memprihatinkan. Masa depan anak itu padahal masih sangat panjang. Kami tidak ingin kondisi itu terjadi di Bontang. Karena itu, walau keterbatasan anggaran, kami tetap kasih banyak stimulus untuk pendidikan,” kata Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris, Sabtu 7 Februari 2026.
Salah satunya melalui kartu Bontang Pintar. Pemkot Bontang menyiapkan anggaran sebesar Rp 29,6 miliar yang rencananya akan dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2026 nanti.
“Kita tetap alokasikan untuk kebutuhan anak sekolah itu di tengah keterbatasan anggaran kita. Tujuannya, agar anggaran itu bisa membantu untuk membeli kebutuhan sekolah. Misalnya buku dan alat tulis,” terangnya.
Pun termasuk seragam sekolah, tas dan sepatu, pemkot Bontang mencoba untuk memberikan kebutuhan tersebut.
Sehingga, anak-anak di kota tersebut hanya fokus untuk belajar. Tidak lagi memikirkan yang lain. Karena, kebutuhan mereka sudah terpenuhi.
Hal itu juga yang menjadi alasan utama pemkot Bontang selalu mengawasi sekolah-sekolah yang nakal.
Yakni sekolah yang meminta biaya tertentu kepada orang tua murid. Khususnya di SD dan SMP negeri. Karena, biaya sekolah mereka sudah ditanggung pemerintah.
“Kami tidak ingin ada anak sekolah: SD dan SMP di Bontang yang putus sekolah. Apalagi alasannya karena orang tua tidak mampu. Karena, semuanya sudah gratis. Dari ujung kaki sampai ujung rambut mereka dibantu pemerintah,” tegasnya.




