PAPSI Dorong Konservasi Alam Pakidulan Sukabumi Lewat Penghijauan dan Restocking Ikan
Sukabumi — Memasuki musim kemarau 2012, tiga warga Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, merasa resah melihat kondisi lingkungan di wilayahnya yang kian memprihatinkan. Dari kegelisahan itu, salah satunya, Endang Sutisna, kemudian terlibat dalam upaya pelestarian yang kini dijalankan melalui Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI).
Endang saat ini menjabat sebagai Ketua PAPSI, sebuah organisasi masyarakat non-profit yang dibentuk untuk melestarikan alam Pakidulan Sukabumi, khususnya dalam pengembangan kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.
Endang menuturkan, keterlibatannya di PAPSI membuat kehidupannya berubah. Ia mengaku sebelumnya bekerja di perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) dengan penghasilan yang cukup. Namun, setelah fokus menggarap kegiatan PAPSI, ia lebih sering tidak memiliki uang. Meski begitu, ia menyebut ada kepuasan tersendiri ketika merasa lebih dekat dengan alam.
Tantangan Sosialisasi Geopark dan Konservasi
Menurut Endang, memperkenalkan visi dan misi PAPSI kepada masyarakat sekitar bukan perkara mudah. Ia menyebut pernah ada kelompok yang berniat melakukan demonstrasi untuk menolak keberadaan PAPSI.
Penolakan juga sempat datang dari sebagian pemuka agama. Endang mengatakan, kala itu ada yang memandang konsep geopark semata-mata sebagai pariwisata sehingga muncul kekhawatiran akidah warga akan terpengaruh. Padahal, ia menekankan, geopark memiliki banyak aspek keilmuan.
Endang mencontohkan adanya tokoh agama setempat yang mencoba meluruskan kekhawatiran tersebut dengan mendorong warga memperkuat fondasi keyakinan, alih-alih menolak gagasan geopark. Seiring waktu, isu itu tidak lagi menjadi hambatan utama. Tantangan yang lebih berat, kata Endang, justru mengubah pola pikir masyarakat mengenai pentingnya konservasi.
Penghijauan Jalur dan Bantaran Sungai Ciletuh
Endang menargetkan setiap destinasi di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu memiliki lahan hijau. Untuk mengejar target itu, PAPSI menjalankan sejumlah program, termasuk penanaman pohon non-produksi di sepanjang jalur baru menuju Ciletuh.
Salah satu program yang disebut sedang berjalan adalah penanaman pohon di sepanjang Sungai Ciletuh. Endang menyebut panjang area yang ditanami mencapai 50 kilometer, atau sekitar 100 kilometer jika dihitung kedua sisi sungai.
Program Adopsi Pohon Endemik
Selain penanaman, PAPSI juga membuka program adopsi pohon, khususnya jenis endemik. Program ini dikenakan biaya Rp20 ribu per pohon per orang dan dapat diikuti tanpa harus datang terlebih dahulu ke Ciletuh.
- Biaya adopsi: Rp20 ribu per pohon.
- Peruntukan: Perawatan pohon selama satu tahun, hingga pohon dinilai mampu bertahan.
- Pertanggungjawaban: Pohon diberi nama dan perkembangan dilaporkan kepada donatur.
Penebaran Bibit Ikan untuk Memulihkan Sungai
Upaya lain yang dilakukan PAPSI adalah menebar bibit ikan Nila dan Nilem sebanyak 30 ribu ekor ke Sungai Ciletuh. Endang mengatakan program ini didukung oleh Dinas Perikanan.
Menurutnya, penebaran bibit ikan dimaksudkan agar air Sungai Ciletuh kembali layak dikonsumsi. Ia juga menyinggung adanya praktik pemberian potasium oleh masyarakat pesisir yang berdampak hingga ke sungai.
Endang menilai pengawasan di kawasan sungai relatif lebih mudah karena dilakukan oleh para pemancing. Ia menyebut para pemancing akan bereaksi jika ikan menghilang akibat pencemaran zat berbahaya.




