Pakistan Luncurkan Panda Bonds Pertama Senilai Rp4,2 Triliun untuk Perkuat Hubungan Ekonomi dengan China
Pakistan tengah bersiap menerbitkan obligasi atau surat utang jangka panjang perdananya yang dikenal sebagai “ Panda Bonds “. Obligasi senilai sekitar USD250 juta atau setara Rp4,2 triliun ini menjadi langkah penting bagi Pakistan untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan China sekaligus menandai membaiknya kondisi ekonomi domestik.
Pakistan berencana menerbitkan obligasi ‘Panda Bonds’ untuk pertama kalinya.
Penerbitan ini bertujuan memperkuat hubungan ekonomi dengan Tiongkok.
‘Panda Bonds’ adalah obligasi yang diterbitkan oleh entitas non-Tiongkok di pasar domestik Tiongkok.
Obligasi ini akan didenominasi dalam mata uang Yuan Tiongkok.
Langkah ini menandai upaya Pakistan untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan.
Nilai penerbitan perdana ini direncanakan mencapai sekitar Rp4,2 triliun.
Menurut koresponden asing Nikkei Asia, Farhan Bokhari, penerbitan ini diperkirakan akan diluncurkan sebelum akhir kuartal ini. “Didorong oleh kembalinya stabilitas makroekonomi, Pakistan sedang mempersiapkan penerbitan Panda bonds pertamanya, yang diperkirakan akan diluncurkan sebelum akhir kuartal ini,” ujar Bokhari.
Sejumlah analis memprediksi, penerbitan awal ini berpotensi berkembang hingga mencapai USD1 miliar, membuka jalan bagi Pakistan untuk lebih rutin mengakses pasar obligasi China. Langkah ini dianggap sebagai transisi krusial bagi Pakistan, mengingat negara tersebut sempat berada di ambang gagal bayar utang luar negeri hanya tiga tahun lalu.
“Bagi negara yang secara luas diyakini berada di ambang gagal bayar utang luar negeri pertamanya hanya tiga tahun lalu, kembalinya Pakistan ke pasar obligasi global menandai sebuah transisi penting,” tambah Bokhari.
Hubungan ekonomi antara China dan Pakistan sebelumnya telah diperkuat melalui proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) yang diluncurkan pada tahun 2015 dengan nilai investasi mencapai USD60 miliar. Namun, catatan Mureks menunjukkan, fokus investasi luar negeri China kini mulai bergeser.
Bokhari menyebut, “China semakin beralih kepada peminjam di dunia Barat, terutama Amerika Serikat,” merujuk pada laporan AidData yang menunjukkan AS sebagai penerima terbesar pinjaman portofolio China sejak tahun 2000.
Meski demikian, Pakistan masih menghadapi berbagai tantangan internal yang signifikan. Konflik politik yang berkepanjangan menjadi salah satu faktor utama yang terus melemahkan prospek persatuan nasional. “Perpecahan internal Pakistan, yang dipicu oleh konflik politik yang berulang, terus melemahkan prospek persatuan nasional,” jelas Bokhari.
Selain itu, masalah keamanan juga menjadi sorotan serius. “Serangan teroris baru-baru ini di seluruh Pakistan, termasuk di ibu kota Islamabad, menjadi pengingat akan tantangan serius terhadap stabilitas negara tersebut,” tulis Bokhari.
Oleh karena itu, reformasi ekonomi yang komprehensif sangat penting untuk menarik investor dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan. “Rencana Pakistan untuk meluncurkan Panda bonds pertamanya harus didukung oleh reformasi besar guna meningkatkan prospek ekonomi negara tersebut,” tegas Bokhari.
Ia juga menekankan perlunya peningkatan pertumbuhan ekonomi, khususnya dengan memperkuat sektor pertanian yang rentan terhadap dampak perubahan iklim dan banjir. Bokhari menyimpulkan bahwa peluncuran Panda Bonds ini harus dilihat sebagai momentum bagi Pakistan untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada. “Peluncuran Panda bonds mendatang harus dilihat sebagai peluang bagi Pakistan untuk mengatasi berbagai tantangannya,” tutupnya.




