Onde-Onde: Jajanan Tradisional Indonesia dengan Akar Sejarah dari Tiongkok
PR JATENG - Onde-onde dikenal sebagai salah satu jajanan tradisional favorit masyarakat Indonesia.
Teksturnya yang renyah di luar dan lembut di dalam membuat camilan ini digemari lintas generasi.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa onde-onde ternyata memiliki sejarah panjang yang bermula dari luar Nusantara.
Dilansir dari unggahan video akun Facebook Jisal, onde-onde sejatinya berasal dari Tiongkok dan telah dikenal sejak ribuan tahun silam.
Di negeri Tirai Bambu, kue ini disebut jandui, yakni bola adonan yang dilapisi wijen dan menjadi simbol keberuntungan serta kemakmuran.
“Onde-onde awalnya dikenal di Tiongkok sebagai jandui. Bentuknya bulat, dilapisi wijen, dan dipercaya melambangkan rezeki serta kehidupan yang utuh,” ujar narasi dalam video Facebook Jisal.
Melalui jalur perdagangan dan migrasi budaya, jandui kemudian menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Di tangan masyarakat Nusantara, jajanan ini mengalami adaptasi rasa dan isian.
Jika di Tiongkok biasanya diisi pasta kacang merah, di Indonesia onde-onde justru populer dengan isian kacang hijau manis.
Perubahan ini membuat cita rasa onde-onde lebih sesuai dengan lidah lokal, sekaligus menjadikannya jajanan rakyat yang mudah ditemui di pasar tradisional hingga sentra kuliner.
Keunikan onde-onde bukan hanya pada rasanya, tetapi juga maknanya.
Bentuk bulat yang dimilikinya dipercaya melambangkan keutuhan, harapan, dan keberlangsungan hidup.
Filosofi tersebut membuat onde-onde kerap hadir dalam berbagai acara keluarga dan tradisi masyarakat.
“Saat kita memakan onde-onde, sebenarnya kita sedang menikmati warisan budaya yang telah melewati perjalanan panjang peradaban,” lanjut kutipan dalam video Jisal.
Hingga kini, onde-onde tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern.
Dari gerobak kaki lima hingga toko oleh-oleh, jajanan sederhana ini masih menjadi favorit karena rasanya yang khas dan kisahnya yang sarat nilai sejarah.
Dengan demikian, onde-onde bukan sekadar camilan pengganjal lapar, melainkan potongan cerita lintas zaman yang menyatukan budaya Tiongkok dan Nusantara dalam satu gigitan.***




