Nostalgia Puasa Pertama: Dari Gengsi Hingga Kemenangan
Kalau ngomongin soal menyambut datangnya bulan puasa, rasanya ada yang kurang kalau tidak menyempatkan diri bernostalgia ke masa kecil. Masa di mana beban hidup belum menyinggung fase quarter life crisis, melainkan cuma sebatas mikirin nanti sore mau main apa. Ingatanku perlahan mengingat ke momen historis pertama kali aku belajar puasa secara sungguhan. Waktu itu posisiku masih kelas 2 SD.
Motivasi utamaku untuk ikut berpuasa waktu itu, jujur saja, bukan murni seratus persen karena ceramah orang tua, apalagi karena sudah paham dalil agama yang mendalam, sangat jauh dari itu. Ada sepasang influencer bocah paling krusial yang sukses meracuni pikiran anak-anak seumuranku saat itu: Upin dan Ipin.
Ya, waktu itu kartun dari negeri jiran ini memang lagi ramai-ramainya di TV. Aku masih ingat betul betapa ikoniknya episode "Esok Puasa" di musim pertama mereka. Melihat dua bocah botak kembar itu begitu antusias menyambut bulan puasa bersama Kak Ros dan Opah, entah kenapa egoku sebagai anak SD langsung tersentil. Gengsi rasanya kalau aku tidak ikutan puasa juga. Masa anak SD kalah kuat sama anak TK Tadika Mesra? Begitulah kira-kira mindset-ku saat itu.
Berbekal gengsi dari anak-anak TK di Kampung Durian Runtuh, aku ikut bangun sahur di hari pertama Ramadan. Awalnya semua terasa sangat meyakinkan. Pagi hari aku masih sanggup pecicilan ke sana kemari. Namun, begitu matahari mulai naik dan teriknya menyengat tepat di atas kepala, nyaliku langsung ciut. Perut mulai memainkan simfoni keroncongan, dan tenggorokan rasanya sekering gurun pasir.
Pertahanan yang kubangun susah payah dengan dalih "tidak mau kalah dari Upin Ipin" itu akhirnya runtuh juga. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Diam-diam, aku melipir ke dapur untuk melakukan aksi penyelundupan logistik, berniat minum seteguk dua teguk air. Sialnya, belum sempat menikmati kemenangan itu, aksiku ketahuan duluan oleh orang rumah. Tamat sudah riwayat puasa hari pertamaku. Rasanya campur aduk antara lega karena akhirnya dahaga itu hilang, tapi juga malu luar biasa karena ketahuan batal duluan sebelum magrib tiba.
Malam harinya, aku merenung (gaya anak SD) dan mengumpulkan tekad lagi. Besoknya, di hari kedua Ramadan, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan amatir pencurian air minum itu. Seharian aku mencoba sekuat tenaga mencari distraksi. Menahan godaan demi godaan, terutama iklan sirup marjan di TV sore hari yang entah kenapa visualnya terlihat seratus kali lipat lebih menyegarkan dari hari-hari biasa.
Detik-detik menjelang azan magrib di hari kedua itu rasanya seperti menunggu pengumuman kelulusan, sangat menegangkan. Dan ketika suara azan akhirnya benar-benar berkumandang, rasanya luar biasa melegakan. Itu adalah momen kemenangan bersejarahku: berhasil menamatkan puasa satu hari penuh untuk pertama kalinya!
Memori tu selalu bikin aku teringat tiap kali udara menjelang Ramadan mulai terasa. Nostalgia tentang keluguan, kegagalan di hari pertama, dan keberhasilan di hari kedua, jadi pengingat betapa polosnya proses belajar kita dulu. Dulu motivasinya cuma sesederhana terpengaruh kartun Upin Ipin, sekarang motivasinya jelas sudah jauh lebih kompleks dengan berbagai macam resolusi pendewasaan diri.
Tapi satu hal yang pasti, rasa syukur saat tegukan air pertama membasahi tenggorokan di waktu magrib itu, rasanya tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.




