Mewujudkan Keamanan Digital untuk Anak di Era Siber
RRI.CO.ID, Purwokerto : Di era modern ini, dunia digital yang tanpa batas menawarkan peluang sekaligus risiko besar untuk perkembangan anak-anak. Dalam diskusi CommuniAction yang diselenggarakan oleh Ditjen Komunikasi Publik dan Media membahas topik “Anak di Dunia Digital: Aman atau Sekadar Diawasi?”, yang menekankan bahwa keamanan anak di ruang siber merupakan keharusan yang tidak boleh ditunda. Eksistensi anak di dunia maya haruslah dibarengi dengan pemahaman yakni pengawasan pasif tidaklah cukup untuk melindungi anak-anak dari ancaman siber yang kompleks.
Perbedaan mendasar menjadi sorotan antara “sekadar mengawasi” dan “memastikan keamanan” secara lebih aktif. Naning Pudji Julianingsih selaku Child Protection Specialist dari UNICEF memberikan pandangannya mengenai krusialnya sistem perlindungan anak yang terpadu guna mencegah eksploitasi daring.
“Mengawasi hanya bersifat reaktif, sedangkan menciptakan keamanan memerlukan peran yang aktif dari orang tua dalam menanamkan literasi digital sejak awal. Dengan edukasi yang tepat, anak-anak diajarkan untuk menjaga privasi data pribadi, menyaring konten negatif, dan mengenali potensi berbahaya seperti perundungan siber atau cyber bullying,” lanjut Naning.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akan selalu berusaha menciptakan kebijakan kuat untuk melindungi hak-hak anak di dunia digital. Hal itu diperkuat oleh penjelasan Tenaga Ahli Ditjen Komunikasi Publik dan Media KOMDIGI, Dwi Santoso, bahwa komitmen pemerintah dalam menyediakan saluran informasi yang sehat bagi masyarakat.
“Program seperti IndonesiaGoID Goes to Campus, merupakan langkah nyata untuk menyebarkan kesadaran bersama mengenai etika dan keamanan digital. Pemerintah, platform penyedia layanan, dan lembaga pendidikan harus bersinergi untuk menekankan penyebaran konten yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak,” kata Dwi Santoso.
“Tidak hanya kebijakan dan edukasi, kunci utama dalam menjaga keamanan digital yakni dapat berkomunikasi dua arah yang terbuka. Pemahaman mengenai manajemen reputasi digital sangat penting ditanamkan sejak dini agar anak-anak lebih bijak dalam berinteraksi di berbagai platform sosial,” ujar Reza Ahmad Maulana, Praktisi Public Relations.
Bagaimanapun juga tantangan di dunia digital akan selalu berkembang pesat, sehingga adaptasi dari para orang tua kepada tren teknologi harus ditingkatkan secara bertahap. Keamanan anak merupakan tanggung jawab bersama yang dimulai dari lingkungan rumah serta didukung oleh sistem perlindungan nasional yang kuat. Melalui kolaborasi dari semua pihak, diharapkan ruang digital dapat menjadi tempat produktif, inspiratif, dan aman untuk masa depan generasi muda. (Khofifah)




