Merger BUMN Diharapkan Tingkatkan Kapitalisasi Pasar Modal
NERACA
Jakarta– Rencana pemerintah melakukan merger dan konsolidasi perusahaan pelat merah diyakini bisa mendongkrak kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan BUMN di pasar modal, kendati secara entitas jumlahnya akan berkurang. Danantara Indonesia menghitung, perusahaan BUMN yang berada di bawahnya berkontribusi hampir 30% dari total market cap pasar modal Indonesia.
Kata Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, peluang peningkatan kapitalisasi pasar itu bisa dicapai karena bisnis perusahaan pelat merah diyakini akan lebih sehat dan menguntungkan pasca konsolidasi."Tidak berkurang. Tambah tinggi, kan jadi efisien, laba meningkat. Tentu kapitalisasi lebih tinggi,"ujarnya di Jakarta, kemarin.
Dony menghitung saat ini kurang lebih ada 800 entitas perusahaan BUMN. Danantara saat ini sedang melakukan mapping, dan targetnya seluruh konsolidasi akan rampung tahun ini. Adapun, salah satu perusahaan BUMN yang masuk dalam Pipeline perampingan tahun ini adalah PT Pertamina (Persero). Dony memperkirakan akan ada lebih dari 38 anak usaha Pertamina yang di-merger.
Kemudian, di sektor keuangan non-bank, Danantara juga akan mengonsolidasi perusahaan reasuransi pelat merah, dari yang saat ini berjumlah tiga menjadi satu perusahaan, namun dengan kondisi yang lebih sehat. Dony menegaskan bahwa pada prinsipnya konsolidasi BUMN dilakukan dengan tujuan agar perusahaan menjadi lebih baik. Dia menyadari saat ini ada BUMN yang masih merugi, skalanya kecil, dan bisnisnya boros, alias tak efisien.
Danantara, lanjutnya, menegaskan komitmennya agar transformasi BUMN ini tidak menimbulkan PHK."Kita upayakan tidak ada dampak, karena bisnis kita konsolidasikan. Karyawan akan diserap perusahaan hasil konsolidasi. Don't worry, tidak usah kahwatir, kita pikirkan yang terbaik buat masyarakat Indonesia,"ujarnya.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen dorong pertumbuhan kontribusi pasar modal terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan perkuat ekosistem pasar modal. Pasalnya, kapitalisasi pasar atau market cap saham Indonesia terhadap PDB mengalami pertumbuhan. Namun, kontribusinya masih jauh di bawah negara-negara ASEAN.
Mantan Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar pernah bilang, jumlah kontribusi pasar saham Indonesia saat ini menunjukkan bahwa untuk merealisasikan ruang dan potensi pertumbuhan pasar modal yang masih sangat besar diperlukan perkuatan ekosistem pasar modal.“Sehingga akan meningkatkan aspek integritas pasar yang menjadi asas utama well functioning and efficient capital market,” ungkapnya.
Disampaikanya, kinerja pasar modal yang positif merupakan modal penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. Pasar modal Indonesia masuk dalam jajaran 20 bursa dengan nilai kapitalisasi terbesar di dunia, sekaligus menjadi yang terbesar di ASEAN. Dimana nilai kapitalisasi pasar sudah mencapai Rp15.300 triliun, nilai transaksi harian sudah mencapai Rp16,9 triliun dan jumlah investor sudah mencapai 21 juta SID.




