Menjaga Kemanusiaan di Era Ketergantungan Digital
BSINews, Yogyakarta — Transformasi digital yang terjadi dalam dua dekade terakhir telah mengubah banyak sisi kehidupan manusia. Dari aktivitas harian yang semakin efisien, akses informasi yang tak terbatas, hingga berbagai inovasi yang terus bermunculan. Namun di tengah arus perkembangan ini, muncul kekhawatiran mengenai ketergantungan sosial terhadap teknologi digital.
Ahmad Syukron, dosen Universitas BSI (Bina Sarana Informatika), menilai bahwa kehadiran teknologi digital membawa dampak besar, baik positif maupun negatif. Ia menyebutkan bahwa berbagai inovasi seperti media sosial, kecerdasan buatan (AI), dan Internet of Things (IoT) telah menghadirkan kemudahan luar biasa dalam kehidupan masyarakat. Namun, di sisi lain, teknologi juga telah menciptakan pola interaksi baru yang cenderung menjauhkan manusia dari hubungan sosial yang nyata.
Ketergantungan Gawai Wajah Lain dari Modernitas
“Banyak hal menjadi lebih cepat dan praktis, mulai dari pembelajaran daring, layanan kesehatan digital, hingga peluang ekonomi berbasis konten. Tapi justru di titik itu, kita harus mulai bertanya apakah kita sedang menikmati kemajuan, atau tanpa sadar menjadi tergantung?” ujar Syukron dalam keterangan tertulis, Selasa (29/7).
Ia menyoroti fenomena seperti nomophobia, yaitu rasa cemas berlebihan saat tidak memegang ponsel, dan semakin minimnya interaksi langsung di antara individu. Menurutnya, masyarakat kini lebih banyak terlibat dalam ruang digital, sementara kualitas interaksi nyata justru menurun.
Dalam pandangannya, keseimbangan menjadi kunci utama. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan yang mengendalikan. “Kita tidak bisa menolak kemajuan, tapi kita bisa mengendalikannya. Jangan sampai kita kehilangan kemanusiaan hanya karena terlena dengan layar,” tegasnya.
Baca juga : Tak Ada Sistem 100% Aman, Tapi Mahasiswa Bisa Lebih Cerdas dari Peretas
Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai institusi yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif, terus mendorong literasi digital yang tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran etis dan sosial dalam menggunakan teknologi.
Syukron berharap agar mahasiswa dan generasi muda mampu memanfaatkan inovasi digital secara produktif tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya lebih penting dari sekadar koneksi daring.




