Mengungkap Alasan Anak-Anak Memakan Kotoran Hidung
iStock Free Images
Kebiasaan menjijikkan bagi orang dewasa ini ternyata umum pada anak-anak. Apa sebenarnya alasan ilmiahnya?
Nationalgeographic.co.id— Kita hampir semua pernah melihatnya: seorang anak memasukkan satu jari ke dalam lubang hidungnya, mengorek perlahan, lalu memakan hasilnya seolah itu camilan biasa. Bagi orang dewasa, pemandangan ini terasa menjijikkan.
Namun bagi anak-anak, hal tersebut tampak wajar dan tanpa rasa malu. Lalu muncul pertanyaan: mengapa mereka melakukannya? Apakah ada alasan tertentu di balik kebiasaan ini?
Sebagian besar orang tua akan mengakui bahwa kebiasaan memakan lendir hidung sendiri—yang dalam istilah ilmiah disebut mucophagy —cukup umum terjadi pada anak-anak. Meski begitu, data ilmiah mengenai seberapa sering perilaku ini terjadi masih sangat terbatas.
Sebuah survei menunjukkan bahwa kebiasaan mengorek hidung bukan hanya dilakukan anak-anak; orang dewasa pun melakukannya. Penelitian tahun 2001 terhadap 200 remaja di India menemukan bahwa hampir semua responden mengaku pernah mengorek hidung.
Bahkan, sembilan orang di antaranya mengaku rutin memakan kotoran hidung mereka. Meski begitu, hingga kini belum ada penelitian serius yang benar-benar mengkaji alasan mengapa anak-anak memakan lendir hidungnya sendiri.
Yang menarik, para peneliti menemukan bahwa perilaku ini tidak hanya terjadi pada manusia. Setidaknya 12 spesies primata lain juga menunjukkan kebiasaan serupa.
Biolog evolusi Anne-Claire Fabre pertama kali menyadari hal ini saat mengamati seekor aye-aye (Daubentonia madagascariensis), sejenis lemur dari Madagaskar. Spesies ini dikenal memiliki jari tengah yang sangat panjang, sekitar 8 sentimeter, yang biasanya digunakan untuk mengeluarkan serangga dari celah sempit.
Namun pada 2015, ketika Fabre mengamati seekor aye-aye di penangkaran, ia terkejut melihat hewan itu memasukkan jarinya ke lubang hidung, mengeluarkan lendir, lalu menjilat jarinya hingga bersih.
Menurut Fabre, yang merupakan profesor di University of Bern, momen itu terasa lucu sekaligus menjijikkan. Namun, ia melihat bahwa hewan tersebut tampak menikmati tindakannya dan melakukannya cukup sering. Meski pengamatan itu dilakukan pada hewan di penangkaran, tidak ada alasan kuat untuk menganggap perilaku tersebut tidak terjadi juga di alam liar.
Temuan itu mendorong Fabre menelusuri literatur ilmiah lainnya. Ia menemukan bukti bahwa gorila, bonobo, simpanse, makaka, kapusin, dan sejumlah primata lain juga mengorek dan memakan lendir hidung mereka. Sebagian besar menggunakan jari, tetapi ada juga yang memakai ranting untuk mengeluarkannya. Bahkan, beberapa primata tercatat saling mengorek hidung satu sama lain.
Secara komposisi, lendir hidung sebagian besar terdiri atas air—lebih dari 98 persen. Sisanya adalah mucin (protein-karbohidrat) dan garam. Fabre menjelaskan, ada kemungkinan hewan memperoleh manfaat tertentu dari mengonsumsi zat tersebut, sebagaimana beberapa spesies memakan kembali kotorannya untuk menyerap sisa nutrisi yang belum tercerna.
Temuan ini memunculkan dugaan bahwa mungkin ada dasar evolusioner di balik perilaku mucophagy pada manusia.
Halaman:
1 2
Tag:
Sains Kotoran Hidung Mucophagy
Mutakhir
Populer




