Pada tanggal 11 Mei, Indonesia akan kembali mengingat momen penting dalam sejarahnya. Meskipun bagi sebagian orang tanggal ini mungkin terlewatkan, bagi bangsa ini, ia menjadi simbol peringatan yang tak akan pernah pudar.
Menjelang peringatan ke-28 tahun peristiwa tersebut, atmosfer di Indonesia seolah mengingatkan kita pada ketegangan yang pernah terjadi: perlawanan, keputusasaan ekonomi, dan keberanian rakyat yang tumpah ke jalanan.
Mei 1998 tercatat sebagai bulan yang kelam dalam sejarah modern Indonesia. Di antara tanggal-tanggal yang ada, 11 Mei berdiri sebagai satu titik hening yang mencekam, sebuah jeda sebelum badai besar yang akan mengguncang tatanan Orde Baru.
Pada Senin, 11 Mei 1998, suasana di Jakarta penuh dengan ketegangan. Di berbagai universitas, detak jantung mahasiswa terasa tidak teratur. Mereka yang sebelumnya hanya mengungkapkan pendapat di dalam kampus kini mulai bergerak menuju jalanan.
Di Universitas Trisakti, ribuan mahasiswa berkumpul untuk menyampaikan suara mereka melalui mimbar bebas. Orasi-orasi tajam memenuhi udara, dengan satu tuntutan yang saat itu dianggap sangat tabu: mundurnya Presiden Soeharto.