Memasuki 2026, Gaya Hidup Analog Kian Diminati sebagai Jeda dari AI dan Gawai
Sumber Foto: Kompas.id
Teknologi

Memasuki 2026, Gaya Hidup Analog Kian Diminati sebagai Jeda dari AI dan Gawai

Sebagian orang memilih melawan untuk tenggelam dalam pusara digital. Memasuki 2026, gaya hidup analog, lepas dari gawai dan AI, semakin menjadi tren.

AFP

Oleh Irene Sarwindaningrum

21 Jan 2026 08:00 WIB · Internasional

Kemampuan untuk berbahagia bisa jadi berbanding terbalik dengan kemajuan teknologi.

Dalam statistik penghasilan dan usia harapan hidup, peradaban tampak lebih sejahtera. Akan tetapi, zaman juga semakin menuntut manusia serba cepat dan serba produktif demi profit para juragan. Sampai-sampai hidup kian hilang makna.

Setidaknya demikian menurut sejarawan Yuval Noah Harari dalam berbagai karyanya. Dalam bukunya, Homo Deus, Harari mengatakan, teknologi dan algoritma mereduksi manusia menjadi komponen dalam mesin ekonomi dan informasi.

Serial Artikel

Sisi Gelap Penggunaan AI di Dunia Kerja: Karyawan Merasa Kesepian

Semakin banyak karyawan yang berkolaborasi dengan AI , semakin karyawan berpotensi merasa dirugikan secara sosial.

Baca Artikel

”Segalanya di internet ditujukan untuk meraih keuntungan, dan nyaris tidak ada lagi yang semata-mata dibuat untuk dinikmati,” kata Shaughnessy Barker (25), warga Penticton, British Columbia, yang memilih menjalani gaya hidup analog, seperti dikutip CNN, Minggu (18/1/2026).

Bisa jadi Harari ada benarnya. Angka depresi meningkat pesat seiring era digital. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 280 juta orang di dunia hidup dengan depresi pada 2025, atau setara 5,7 persen populasi orang dewasa global.

Sebagai perbandingan, studi Global Burden of Disease menunjukkan peningkatan jumlah penderita depresi global mencapai 59,3 persen, dari masa sebelum internet pada 1990 ke 2019.

Tak hanya di lingkungan pekerjaan, kehidupan modern kian dikendalikan perangkat berbasis AI. Asisten virtual, gawai pintar, hingga algoritma mengendalikan apa yang kita baca, tonton, dan beli. Dari urusan dapur sampai lemari baju dan isinya.

Sebagian orang memilih melawan untuk tenggelam dalam pusara digital itu. Memasuki 2026, hidup secara analog, lepas dari gawai dan AI semakin menjadi tren.

”Saya benar-benar merasa ada pergeseran budaya yang sangat besar sedang terjadi saat ini,” kata Direktur Utama Bidang Merchandising jaringan toko kerajinan Michael’s, Stacey Shivel, di New York, Amerika Serikat.

Segalanya di internet ditujukan untuk meraih keuntungan, dan nyaris tidak ada lagi yang semata-mata dibuat untuk dinikmati.

Sulit mengukur tren ini. Salah satu penanda adalah turunnya tingkat interaksi (engagement rate) di media sosial (medsos) setahun terakhir. Laporan 2025 Social Media Industry Benchmark Report dari Rival IQ mencatat, Facebook turun 36 persen, Instagram 16 persen, Tiktok 34 persen, dan X 48 persen.

Penanda lain, melonjaknya minat pada hobi ”nenek-nenek”. Misalnya merajut, menyulam, membuat kerajinan tangan, menulis surat, dan mengoleksi piringan hitam.

Perusahaan perlengkapan seni dan kerajinan Michael’s, yang mengoperasikan lebih dari 1.300 toko di Amerika Utara, mencatat pencarian istilah ”hobi analog” di situs mereka meningkat 136 persen dalam enam bulan terakhir.

Penjualan alat kerajinan melonjak 86 persen sepanjang 2025 dan diperkirakan masih bertambah 30–40 persen pada 2026. Pencarian paket benang rajut bahkan melonjak hingga 1.200 persen sepanjang 2025.

”Kami melihat semakin banyak orang menggunakan aktivitas kerajinan sebagai jeda kesehatan mental, untuk menjauh dari doomscrolling, terutama setelah pandemi Covid-19,” kata Shively.

Tidak anti

Fenomena hidup analog ini bukan sekadar detoks digital sesaat. Ia dipromosikan sebagai gaya hidup. Bagi orang-orang yang menjalaninya, menjadi analog adalah upaya sadar untuk melambat dan mengerjakan sesuatu secara manual. Mereka menemukan kembali kepuasan dari aktivitas yang ada wujudnya dan bisa diresapi.

Para pelaku gaya hidup analog menegaskan bahwa mereka bukan antiteknologi. Hal yang mereka tolak adalah kejenuhan akibat konsumsi konten digital yang serba cepat, dangkal, dan berulang.

Salah satunya, konten generatif berbasis AI yang sering disebut sebagai AI slop. ”AI slop itu sangat melelahkan, baik dari tindakan melihatnya maupun karena sifatnya yang begitu repetitif dan tidak orisinal,” kata Avriel Epps, peneliti AI sekaligus asisten profesor di University of California, Riverside.

Menurut Epps, hidup analog bukan berarti memutus diri dari arus informasi. ”Menjadi analog bukan berarti memotong diri dari informasi di internet, melainkan memotong internet dari informasi tentang saya,” ujarnya.

Ia mengaku telah keluar dari ekosistem digital dan menerapkan Hari Minggu tanpa layar.

Komunitas

Bagi sebagian orang, pilihan hidup analog bersifat personal sekaligus ideologis. Barker menyebut dirinya pembenci AI sejati. Ia menggunakan telepon rumah, mengoleksi kaset, DVD, VHS, dan piringan hitam. Ia juga rutin mengadakan malam kerajinan dan perjamuan tanpa gawai.

Namun, ia juga menyadari paradoks hidup analog di era digital. Banyak keperluannya hanya bisa dipenuhi dengan menggunakan internet. Ia tak menolaknya, tetapi juga tak terlarut. Ia hanya menggunakan teknologi digital saat memerlukan saja.

Di sejumlah kota, semangat analog berkembang menjadi ruang komunal. DJ Robert Owoyele (34) mendirikan CAYA, sebuah pertemuan bulanan bertema kumpul-kumpul analog (analog gathering) di Dallas. Kegiatan ini mencakup menulis surat, mewarnai, hingga sesi mendengarkan piringan hitam bersama.

Pertemuan itu, katanya, menumbuhkan lagi silaturahmi yang tulus dan bermakna. ”Kita hidup di era digital menumbuhkan rasa koneksi palsu, tetapi koneksi sejati terjadi secara langsung,” kata Owoyele.

”Ketika kita bisa menyentuh atau melihat sesuatu secara fisik, kita terhubung secara alami. Aktivitas analog ini adalah representasi dari itu,” ujarnya, menambahkan.

Gaya hidup analog juga menemukan wujudnya dalam aktivitas kolektif sederhana. Dalam sebuah lingkar rajut mingguan di perpustakaan Brooklyn, sekitar 20 orang dari berbagai usia berkumpul tanpa gawai.

”Merajut memberi tangan Anda sesuatu untuk dilakukan sehingga Anda tidak memegang ponsel,” kata Tanya Nguyen, salah satu peserta rutin.

Kebangkitan ini juga tecermin dari hidupnya kembali tradisi surat-menyurat dan alat tulis lawas. ”Saya merasa sahabat pena saya adalah teman-teman saya. Saya tidak memandang mereka berbeda dari teman yang saya ajak mengobrol di kedai kopi atau di rumah,” kata Melissa Bobbitt (42), penulis surat aktif dari Claremont, California.

Bagi Bobbit, lepas dari gawai memberinya waktu untuk meresapi setiap relasi. Fokus pada satu orang, benar-benar membaca apa yang mereka sampaikan, dan berbagi isi hati. ”Itu hampir seperti sesi terapi,” ujarnya.

Generasi muda pun ikut melambat. Stephania Kontopanos (21), mahasiswa di Chicago, mengatakan sulit menjauh dari layar ketika kehidupan akademik dan sosial nyaris sepenuhnya daring.

”Ada saat-saat ketika saya bersama teman-teman saat makan malam, lalu saya menyadari kami semua sedang menatap ponsel,” katanya.

Ia mulai mengurangi waktu layar dengan mengirim kartu pos, membuat kliping, dan menulis jurnal. ”Semakin bertambah usia, saya semakin menyadari betapa banyak waktu yang terbuang di ponsel,” ujar Kontopanos.

KiKi Klassen (28), warga Ontario, Kanada, juga merasakan ikatan emosional kuat dari menulis surat. Ini terutama karena mendiang ibunya adalah anggota serikat pekerja pos.

Pada Oktober 2024, ia meluncurkan layanan surat Lucky Duck Mail Club. Setiap bulan Klassen mengirimkan paket surat berlangganan kepada para anggotanya. Isinya selembar karya seni buatannya, kutipan yang menginspirasi, serta pesan tertulis personal.

Semuanya dikirim melalui pos fisik sebagai bagian dari pengalaman hidup analog. Layanan surat bulanan berlangganan itu kini memiliki lebih dari 1.000 anggota di hingga 36 negara.

”Ketika saya duduk menulis, saya dipaksa untuk refleksi dan memilih kata dengan hati-hati,” kata Klassen.

Beragam kisah menyentuh ia terima dalam surat-surat balasan itu. Orang-orang merasa lebih bebas bercerita lewat kertas daripada media digital yang rentan peretasan.

Komunitas-komunitas analog lain juga tumbuh. Ada klub mesin tik seperti Type Pals yang mempertemukan para penggemar mesin tik. Ada pula Los Angeles Printers Fair yang diselenggarakan International Printing Museum di California. Forum itu menjadi ajang bertemunya pencinta seni cetak dan teknologi percetakan tradisional.

Di tengah dunia yang terus dipercepat oleh AI dan optimasi digital, keputusan untuk merajut, menulis surat, atau sekadar berkumpul tanpa gawai menjelma sebagai pilihan sadar.

Bagi mereka, inilah perlawanan terhadap hidup digital yang kian melelahkan. Bukan untuk anti, melainkan menolak dikendalikan oleh algoritma. (AP)

Serial Artikel

Gen Z Lelah, tetapi Tak Mampu Lepas dari Ponsel

Banjir notifikasi di ponsel membuat remaja lelah. Sayangnya, mereka tidak mampu melepaskan diri dari ponsel. Sekitar 10 persen gen Z pengguna media digital menunjukkan gejala ADHD.

Baca Artikel

media sosial Detox media sosial Gaya hidup Analog teknologi digital Gawai ponsel kecerdasan buatan Akal imitasi utama SDGs SDG09-Industri, Inovasi dan Infrastruktur SDG11-Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan SDG08-Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum

|

Editor:

Nur Hidayati

|

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto