Perilaku phubbing, yang berasal dari gabungan kata 'phone' dan 'snubbing', merujuk pada tindakan mengabaikan orang lain saat berkomunikasi secara tatap muka, dengan lebih fokus pada perangkat ponsel. Istilah ini pertama kali diperkenalkan di Australia pada tahun 2012 oleh sebuah biro iklan untuk menggambarkan fenomena di mana individu lebih memilih berinteraksi dengan dunia digital ketimbang dengan orang di sekitarnya.
Phubbing dapat merugikan hubungan interpersonal, karena ketika seseorang terlibat dalam perilaku ini, orang lain yang berinteraksi dengannya cenderung merasa diabaikan dan tidak dihargai. Beberapa faktor yang memicu perilaku ini antara lain kecanduan internet, media sosial, dan permainan daring. Kecanduan akan aplikasi seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp seringkali membuat individu lebih aktif di dunia maya dibandingkan dengan kehidupan nyata. Selain itu, orang yang memiliki kepribadian introvert mungkin lebih rentan terhadap perilaku phubbing karena kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain.
Orang yang berperilaku phubbing biasanya menunjukkan beberapa ciri khas, seperti:
Perilaku phubbing dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik dari segi kesehatan fisik maupun mental. Secara fisik, pengguna ponsel yang berlebihan dapat mengalami kelelahan mata, penglihatan yang memburuk, serta masalah kesehatan lainnya akibat radiasi blue light. Dari sisi kesehatan mental, phubbing dapat menyebabkan perasaan cemburu dan kesepian saat melihat aktivitas orang lain di media sosial, serta penurunan rasa percaya diri ketika membandingkan diri dengan orang lain.
Untuk mengatasi perilaku phubbing, ada beberapa langkah yang dapat diambil, antara lain:
Dengan menerapkan langkah-langkah ini, diharapkan individu dapat mengurangi perilaku phubbing dan meningkatkan kualitas interaksi sosial mereka.