Maria Alina Berbagi Tips Percaya Diri dan Positif Sebagai Konten Kreator
Nadir Media - Kapanlagi.com - Maria Alina, mantan model yang kini jadi pengusaha membagikan kisahnya terjun menjadi konten kreator. Rupanya, Maria sudah mulai bikin konten sejak lama. Tapi ia baru benar-benar membuat konten dengan serius di awal tahun 2024.
"Kalau untuk mulai aktif sebenarnya sudah dari waktu yang cukup lama, tetapi saya mulai benar-benar serius dan terarah itu sejak awal 2024. Di situ saya memutuskan untuk membangun personal branding dengan lebih konsisten dan punya konsep yang jelas. Saya tidak hanya ingin sekadar posting, tetapi saya juga ingin memiliki value dan karakter yang kuat di setiap konten yang saya buat. Sejak awal 2024, saya sudah memulai mengelola sosial media saya sendiri secara lebih profesional," ujar Maria kepada wartawan.
Kesadaran akan passion di bidang fashion dan styling yang dimiliki Maria menjadi salah satu trigger atau pemantik dirinya untuk menjadi konten kreator yang berani tampil dengan karakter yang percaya diri dan positif. Background Maria sebagai model telah membentuk caranya untuk melihat diri.
"Saya memulai serius karena saya sadar passion saya ada di fashion dan styling. Saya mengawali dari modeling, dan itu membentuk cara saya melihat diri sendiri. Berawal dari kecintaan saya pada fashion dan pengalaman modeling yang membentuk karakter saya. Tapi yang sesungguhnya jadi trigger adalah keinginan untuk memberi influence yang positif. Saya ingin menunjukkan bahwa style itu bukan soal mahalnya barang, tapi bagaimana kita percaya diri dan menghargai diri sendiri," lanjutnya.
Baca juga berita lainnya di Liputan6.com
1. Dua Pendekatan Berbeda
Maria menyebut bahwa ia punya pendekatan berbeda di dua platform media sosial yang ia gunakan. Diketahui, saat artikel ini diterbitkan ini Maria telah memiliki pengikut 135 ribu di Instagram dan 37 ribu di TikTok.
"Betul, algoritma dan karakter audiens TikTok dan Instagram memang berbeda. Biasanya saya menyesuaikan pendekatannya. Di TikTok saya lebih eksploratif dan mengikuti tren supaya lebih mudah discoverable. Sedangkan di Instagram, saya lebih fokus ke visual yang rapi dan personal branding yang konsisten. Jadi konsepnya bisa sama, tapi eksekusinya saya sesuaikan dengan karakter platformnya," lanjutnya.




