Nadir Media - Oleh Pasha Yudha Ernowo, Kamis, 26 Februari 2026 | 19:38 WIB - Redaktur: Kristantyo Wisnubroto - 279
Jakarta, InfoPublik — Pemulihan pascabencana tidak hanya menyasar infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga masa depan pendidikan anak-anak.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) menghadirkan Pojok Literasi sekaligus kegiatan trauma healing bagi anak-anak terdampak banjir di Kampung Landuh, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, sebagai upaya menjaga keberlanjutan proses belajar di tengah masa pemulihan.
Program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tersebut menjadi bagian dari strategi pemulihan berbasis pendidikan, dengan menghadirkan ruang belajar alternatif yang aman, sederhana, dan adaptif terhadap kondisi lapangan.
Ketua BEM Unsri Muhammad Gabriel Valensa menjelaskan, Pojok Literasi merupakan bentuk bakti sosial melalui pembangunan sekolah darurat bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Program ini dilaksanakan empat kali dalam sepekan dengan kegiatan pembelajaran yang disesuaikan tingkat kelas, disertai aktivitas pendukung seperti permainan edukatif (ice breaking) dan kegiatan interaktif untuk membangun kembali kepercayaan diri anak. “Sebelum program berjalan, banyak anak kehilangan semangat belajar dan belum kembali bersekolah seperti biasa. Setelah adanya Pojok Literasi, perubahan terlihat signifikan, anak-anak kembali aktif dan lebih berekspresi,” ujar Gabriel, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Kamis (26/2/2026).
Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana belajar, tetapi juga menjadi ruang pemulihan psikososial bagi anak-anak yang terdampak bencana. Pendekatan dilakukan secara informal dan humanis agar anak merasa nyaman kembali berinteraksi.
Penanggung jawab Program Pojok Literasi, Veronika Zahra Pirera, mengatakan kegiatan telah berjalan selama sekitar 26 hari dan diterima baik oleh masyarakat karena pendekatan yang natural dan partisipatif. “Kami membangun kedekatan dengan anak-anak melalui aktivitas sehari-hari, bermain bersama, hingga kegiatan keagamaan selama Ramadan seperti salat tarawih bersama. Anak-anak lebih terbuka ketika merasa didengar,” jelas Veronika.
Pojok Literasi dirancang dengan konsep sederhana dan mudah direplikasi. Fasilitas berupa rak buku bertingkat setinggi 130–150 sentimeter dengan lebar sekitar 90–100 sentimeter ditempatkan di sudut ruang belajar tanpa membutuhkan infrastruktur besar.
Mahasiswa juga menyediakan alas duduk dan meja kecil untuk kegiatan membaca bersama. Area belajar dihias secara kreatif dan penuh warna guna menciptakan suasana yang nyaman sekaligus menumbuhkan minat baca siswa.
Koleksi bacaan yang tersedia meliputi cerita anak, buku pengetahuan umum, hingga majalah edukatif. Kehadiran bahan bacaan tersebut menjadi solusi atas keterbatasan fasilitas perpustakaan sekolah yang terdampak banjir.
Tak hanya berbasis konvensional, program ini juga mengintegrasikan teknologi digital sederhana melalui barcode yang dapat dipindai menggunakan gawai untuk mengakses buku elektronik secara luring.
Pendekatan ini menjadikan Pojok Literasi sebagai bagian dari upaya learning recovery pascabencana, memastikan anak-anak tetap memiliki akses pendidikan meski dalam kondisi terbatas.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana, sebelumnya menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak 2026 merupakan wujud transformasi pendidikan tinggi agar lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.“Kehadiran mahasiswa diharapkan memberikan semangat dan optimisme bagi masyarakat untuk bangkit dari cobaan. Ini adalah bentuk nyata pendidikan tinggi yang berdampak,” ujar Ketut.
Melalui Pojok Literasi, mahasiswa tidak hanya menghadirkan ruang belajar sementara, tetapi juga menumbuhkan kembali harapan pendidikan bagi anak-anak di Aceh Tamiang.
Langkah sederhana tersebut menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana dapat dimulai dari menjaga semangat belajar generasi muda—agar tetap tumbuh, belajar, dan bermimpi di tengah keterbatasan.
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber infopublik.id