Nadir Media - BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, harapan untuk kehidupan lebih baik tetap tumbuh.
Tak hanya bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana, tetapi juga bagi keluarga yang setia menunggu di rumah.
Komitmen itu ditegaskan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuwangi melalui aksi peduli keluarga warga binaan.
Mereka menyalurkan bantuan berupa sepeda dan perlengkapan sekolah kepada keluarga warga binaan yang menunjukkan dedikasi tinggi dalam program pembinaan kemandirian, khususnya di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
"Bantuan meliputi tas sekolah, buku, alat tulis, hingga sepeda sebagai sarana transportasi anak-anak warga binaan," kata Kalapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, Kamis (26/2/2026).
Wayan mengatakan, langkah tersebut bukan sekadar pemberian bantuan, melainkan simbol bahwa perubahan selalu memiliki arti.
Bahwa setiap upaya memperbaiki diri, sekecil apa pun, tetap memiliki dampak nyata bagi masa depan keluarga.
Ia menjelaskan, bantuan tersebut merupakan bentuk apresiasi tambahan di luar premi (upah hasil kerja) yang diterima warga binaan setelah masa panen di lahan SAE.
"Saat kami berdialog dengan warga binaan mengenai rencana penggunaan premi, mayoritas menyampaikan keinginan sederhana namun menyentuh, yaitu membelikan perlengkapan sekolah untuk anak-anak mereka," ujar dia.
Dari aspirasi itu, Lapas Banyuwangi memutuskan menambah bantuan agar para ayah tetap bisa menghadirkan senyum bagi putra-putrinya.
Meski tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran mereka di rumah, setidaknya ada bukti bahwa cinta dan tanggung jawab tetap hidup, meski dari balik tembok penjara.
"Ketika warga binaan melihat bahwa kerja keras dan perubahan perilaku mendapat apresiasi, semangat untuk terus berbenah pun tumbuh," tutur dia.
Lapas Banyuwangi meyakini, keluarga adalah sistem pendukung utama dalam proses reintegrasi sosial.
Dukungan dari rumah menjadi energi besar bagi warga binaan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Salah satu warga binaan penerima bantuan berinisial A mengaku terharu, karena perhatian tersebut tidak hanya menyentuh dirinya, tetapi juga pendidikan anaknya.
"Saya sangat bersyukur karena Lapas tidak hanya membina saya secara pribadi, tetapi juga peduli pada pendidikan anak saya," ucap dia.
Ia juga berterima kasih kepada berbagai pihak, atas perhatian yang kini menjadi penyemangatnya untuk terus mengasah keterampilan.
Sehingga, ketika bebas nanti, ia berharap bisa menjadi sosok yang bermanfaat di tengah masyarakat.