Krisis Ekologis di Kalimantan Tengah: 480 Ribu Hektare Hutan Hilang dalam Empat Tahun
Kondisi Hutan yang Memprihatinkan
Kalimantan Tengah saat ini menghadapi situasi krisis ekologis yang mengkhawatirkan. Data terbaru dari organisasi lingkungan Save Our Borneo menunjukkan adanya laju deforestasi yang semakin tak terkendali di wilayah ini. Antara tahun 2020 hingga 2024, tercatat hampir 480 ribu hektare hutan telah hilang, yang menjadi tanda bahaya bagi keberlangsungan ekosistem regional.
Penyebab Utama Kerusakan Hutan
Direktur Save Our Borneo, Habibi, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama dari kerusakan hutan yang masif ini adalah pembukaan lahan skala besar oleh perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI). Aktivitas di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas menjadi sorotan utama, di mana dua perusahaan besar, PT IFP dan PT BHP, berkontribusi signifikan terhadap hilangnya tutupan hutan. Di wilayah operasional mereka, tingkat deforestasi mencapai 78 ribu hektare.
Dampak Terhadap Masyarakat dan Lingkungan
Kerusakan yang terjadi di DAS Kapuas memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Wilayah yang seharusnya berfungsi sebagai daerah tangkapan air kini kehilangan perannya, yang menyebabkan peningkatan frekuensi bencana banjir hingga dua kali dalam setahun. Ironisnya, kawasan yang seharusnya menjadi fokus pemulihan setelah proyek lahan gambut (PLG) pada tahun 1990-an, justru terus dibebani oleh izin konsesi baru yang memperburuk keadaan.
Ekspansi Tanaman Monokultur
Ekspansi tanaman monokultur seperti akasia, sengon, dan balsa juga berkontribusi pada hilangnya hutan alam asli. Sekitar 26.608 hektare hutan alam telah hilang akibat konversi ini. Situasi ini menciptakan sebuah paradoks, mengingat pemerintah saat ini tengah berupaya mencapai target FOLU Net Sink 2030 untuk menurunkan emisi karbon. Namun, di lapangan, pembukaan hutan terus berlangsung tanpa adanya hambatan yang berarti.




