Kondisi Krisis Industri Pers Nasional: Tantangan dan Ancaman Keberlanjutan
Sumber Foto: Medan Insight
Nadir Fokus

Kondisi Krisis Industri Pers Nasional: Tantangan dan Ancaman Keberlanjutan

Kondisi Krisis Industri Pers

Pemimpin Umum Harian Pikiran Rakyat, Januar P Ruswita, memberikan perhatian serius terhadap situasi kritis yang dihadapi oleh industri pers nasional. Menurutnya, kondisi saat ini berada di titik nadir akibat tekanan ekonomi yang berkepanjangan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan media yang kredibel di Indonesia.

Januar, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers (SPS), mengungkapkan bahwa banyak perusahaan media terpaksa melakukan efisiensi yang ekstrem, bahkan ada yang harus gulung tikar. Ia menekankan bahwa ekonomi yang sehat merupakan energi vital bagi pers untuk dapat menghasilkan dan menyampaikan informasi yang terverifikasi dan bertanggung jawab. Namun, saat ini, kondisi tersebut nyaris tidak ada lagi.

Seruan untuk Kebijakan Afirmasi

Dalam peringatan Hari Pers Nasional pada 9 Februari 2026 di Serang, Banten, Januar mengungkapkan bahwa negara perlu hadir untuk menyelamatkan keberlanjutan industri pers melalui kebijakan afirmasi. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan dukungan bagi media agar dapat fokus pada jurnalisme berkualitas yang melawan hoaks dan disinformasi.

Tren Penurunan Media Cetak

Data dari SPS menunjukkan adanya tren penurunan yang signifikan dalam jumlah media cetak, dari 700 menjadi 500 dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Selain itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) melaporkan bahwa lebih dari 500 pekerja pers mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) hanya dalam satu tahun terakhir. Penyebab utama dari situasi ini adalah penurunan pendapatan iklan yang mencapai 25-30%.

Kondisi ini menegaskan perlunya perhatian dan tindakan nyata untuk mendukung keberlangsungan industri pers di Indonesia agar tetap dapat menjalankan perannya dalam menyampaikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya.