Kondisi Industri Pers Nasional Memprihatinkan, Januar P Ruswita Desak Intervensi Negara
Kondisi Terkini Industri Pers
Pemimpin Umum Harian Pikiran Rakyat, Januar P Ruswita, mengungkapkan bahwa ekosistem industri pers di Indonesia saat ini berada dalam keadaan kritis. Selama lebih dari satu dekade, tekanan ekonomi yang terus-menerus telah memaksa banyak perusahaan media untuk melakukan efisiensi yang ekstrem, bahkan mengakibatkan beberapa di antaranya terpaksa gulung tikar.
Pernyataan ini disampaikan oleh Januar, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers (SPS), saat memberikan tanggapan menjelang peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang dijadwalkan pada 9 Februari 2026 di Serang, Provinsi Banten.
Desakan untuk Kebijakan Afirmatif
Januar menekankan pentingnya kehadiran negara untuk menyelamatkan fungsi pers sebagai sumber informasi yang akurat dan sebagai alat pendidikan masyarakat. Ia mengusulkan penerapan skema penghapusan pajak bagi industri pengetahuan, yang dikenal dengan istilah 'No Tax for Knowledge'.
“Penghapusan pajak ini merupakan bagian dari upaya negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan beban pajak yang lebih ringan, pelaku industri pers dapat lebih fokus dalam menyajikan jurnalisme yang berkualitas,” ujarnya.
Pentingnya Jurnalisme Berkualitas
Menurut Januar, jurnalisme yang berkualitas menjadi benteng utama masyarakat dalam menghadapi ancaman hoaks dan disinformasi. Namun, ia mencatat bahwa kondisi industri pers saat ini sangat memprihatinkan, bahkan berada dalam fase yang lebih parah dari sekadar 'sakit'.
Tanpa adanya intervensi kebijakan yang nyata, keberlanjutan pers nasional yang kredibel akan terancam. “Ekonomi industri pers adalah energi vital bagi pers untuk menghasilkan informasi yang terverifikasi dan bertanggung jawab. Saat ini, energinya hampir habis. Negara harus hadir untuk menyelamatkan keberlangsungan ini melalui kebijakan afirmatif,” tegasnya.
Data Penurunan Media Cetak
Data dari SPS menunjukkan adanya tren penurunan yang signifikan dalam jumlah media cetak di Indonesia. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, jumlah media cetak mengalami penyusutan dari sekitar 700 menjadi 500 media, dan tren penurunan ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2025.




