Kisah Pak Guru Najib: Menghadapi Tantangan Pendidikan di Daerah Terpencil
Sumber Foto: Liputan6.com
Sudut Nadir

Kisah Pak Guru Najib: Menghadapi Tantangan Pendidikan di Daerah Terpencil

Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, terdapat seorang guru muda yang tengah menjadi perbincangan, yaitu Najib Nadir. Ia bukan dikenal karena kemewahan, melainkan melalui rekaman-rekaman sederhana di media sosial yang menggambarkan realitas pendidikan di daerah terpencil, khususnya di SD Negeri Terpencil Bainaa Barat.

Najib mengungkapkan bahwa ia tidak merancang konten-konten yang ia unggah. Baginya, kamera ponsel hanya berfungsi sebagai saksi bisu atas pengalaman yang ia alami sehari-hari. "Tidak ada konten yang betul-betul diniatkan untuk dibuat. Jadi, sesampainya di sekolah, jika ada momen menarik, saya capture dengan HP yang saya gunakan," tuturnya.

Perjalanan Menjadi Guru

Sebelum menjadi guru, Najib adalah mahasiswa berprestasi di Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Makassar. Ia berhasil menyelesaikan studinya berkat beasiswa penuh dari pemerintah. Namun, setelah lulus, ia memilih untuk mengabdi di daerah pelosok daripada mencari zona nyaman di kota besar.

"Awal mula jadi guru, saya aktif mengikuti berbagai kegiatan volunteer. Itu yang membawa saya untuk mengabdi di daerah terpencil," kenangnya.

Kesenjangan Pendidikan

Setelah lima bulan mengajar di Bainaa Barat, Najib menyadari betapa besar kesenjangan dalam dunia pendidikan di daerah terpencil. Kesenjangan ini tidak hanya terlihat dari fasilitas bangunan, tetapi juga dari kesejahteraan para guru. "Ada rekan kami yang sudah dekat pensiun, namun statusnya masih PPPK paruh waktu karena terkendala ijazah S1," ungkapnya dengan nada prihatin. Beruntung, pemerintah kini mulai memfasilitasi pendidikan bagi guru senior agar mereka dapat menyelesaikan pendidikan sarjana.

Tantangan Keselamatan

Namun, tantangan terbesar bagi Najib dan murid-muridnya bukan hanya soal fasilitas pendidikan, melainkan juga keselamatan. Banyak siswa yang harus menyeberangi sungai berarus deras tanpa jembatan yang memadai, yang membuat mereka mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan pendidikan. "Angka putus sekolah di daerah terpencil bukan hanya karena biaya, tetapi juga karena masalah keselamatan," tegas Najib.

Meski videonya yang viral mendapat perhatian dari pemerintah untuk pembangunan jembatan, Najib berharap perhatian ini tidak hanya berhenti di sekolahnya. "Masih banyak anak-anak di pelosok Parigi Moutong yang perlu perhatian yang sama. Kami mungkin beruntung karena viral, tetapi banyak rekan-rekan kami yang juga berada di wilayah terpencil yang kurang mendapatkan perhatian," tutupnya.