Kisah Hamsiah: Dari Iseng Menjadi Konten Kreator Affiliate yang Optimis
Nadir Media - POJOKBANUA, BARABAI – Jangan tunggu punya handphone (HP) mahal dan menunggu disupport orang rumah. Itulah prinsip yang kini dipegang Hamsiah, konten kreator muda asal Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Pemilik akun TikTok @syirincell dengan 8.832 pengikut ini mengaku, awalnya terjun ke dunia affiliate bukan karena rencana matang. Semua berawal dari rasa penasaran.
“Kalau rencana khusus sebenarnya nggak ada. Iseng aja lihat orang berhasil, kita juga pengen lihat rasanya dapat duit,” ujarnya sambil tertawa saat diwawancarai, belum lama tadi.
Saat itu, Hamsiah masih bekerja dari pagi sampai sore. Di sela-sela waktu luang, ia mencoba bikin video berkeranjang kuning dan sesekali live. Hampir tiap hari upload konten. Tapi hasilnya? Sepi.
“Dulu nggak ada yang checkout sama sekali. Mungkin rezekinya belum,” kenangnya.
Support? Malah dari Orang Tak Dikenal
Perjuangan di awal tak mudah. Bahkan, dukungan dari orang terdekat pun nyaris tak ada.
“Suami sendiri aja nggak pernah bantu like atau komen biar videonya naik,” katanya blak-blakan.
Menurutnya, di dunia affiliate jangan terlalu berharap dukungan dari teman atau keluarga. Justru yang sering memberi semangat adalah orang-orang yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
“Yang support itu malah orang luar.”
Cukup Buat Jajan, Tapi Optimis Jangka Panjang
Soal penghasilan, Hamsiah realistis. Saat ini, katanya, masih di level kecil.
“Untuk sekarang cukup buat jajan aja, lumayan lah,” bebernya.
Namun ia melihat affiliate bukan sekadar tren sesaat. Dengan makin banyaknya merchant, toko, hingga tempat penginapan yang bergabung di platform TikTok, ia yakin peluangnya masih panjang.
Saat live, Hamsiah tak sekadar menjelaskan produk. Ia mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, bercerita bagaimana awal mengenal produk, alasan menyukainya, hingga promo yang sedang berjalan.
“Ngobrol aja santai. Orang itu suka cerita, bukan cuma disuruh beli,” pesannya.
Untuk produk yang cepat laku, ia menyebut tiap akun punya “winning product” berbeda. Ada yang kuat di fashion atau make up, tapi di akunnya, makanan dan cemilan justru paling cepat habis.
Tekanan Itu dari Diri Sendiri
Soal tekanan, Hamsiah menilai bukan netizen yang jadi masalah utama.
“Sebenarnya orang nggak peduli sama konten kita. Kitanya aja yang punya perasaan macam-macam, takut diomongin,” tuturnya.
Ia pun berbagi pesan untuk anak muda Banua yang ingin mencoba affiliate.
“Mulai aja dulu. Jangan nunggu HP bagus. Jangan nunggu jago ngomong. Kuncinya konsisten. Minimal satu video sehari, jangan pernah bolong,” terangnya.
Dari iseng jadi peluang, dari nol checkout sampai ada hasil walau masih sebatas uang jajan. Kisah Hamsiah membuktikan, kadang yang paling sulit bukan soal modal, tapi keberanian untuk mulai. (AS/KW)




