Nadir Media - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan hingga Mei 2026, menunjukkan bahwa perbankan BUMN memasuki fase pemulihan. Meskipun demikian, konsistensi laba di masa mendatang masih perlu diuji.
Pada tahun 2025, laba bersih gabungan Himbara mengalami penurunan sebesar 4,55 persen menjadi Rp 136,4 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh peningkatan biaya dana akibat persaingan dalam penghimpunan dana pihak ketiga dan suku bunga yang tinggi, yang berdampak pada margin bunga bersih.
Memasuki 2026, bank-bank Himbara mulai menyesuaikan strategi, termasuk meningkatkan porsi dana murah dan efisiensi operasional melalui transformasi digital. Hasilnya, laba kembali tumbuh positif, menunjukkan bahwa pemulihan didorong oleh perbaikan pada bisnis inti perbankan. Namun, tantangan tetap ada, seperti potensi perlambatan ekonomi yang dapat menekan permintaan kredit dan meningkatkan risiko kredit bermasalah.
Di antara bank-bank Himbara, PT Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat pertumbuhan laba tertinggi, dengan laba konsolidasi mencapai Rp 1,85 triliun, tumbuh 54,37 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan kredit dan efisiensi biaya. BTN juga menerapkan strategi diversifikasi bisnis untuk memperkuat prospek jangka panjang. Direktur Utama BTN menyatakan bahwa pencapaian laba merupakan hasil dari strategi yang konsisten dalam meningkatkan kualitas aset dan pengelolaan biaya dana. Ke depan, BTN akan melanjutkan transformasi melalui digitalisasi dan pengembangan ekosistem perumahan.