Kim Jong Un Tawarkan Dialog dengan AS, Tiongkok Serukan Perdamaian
JAKARTA - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengisyaratkan bahwa Pyongyang bersedia memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat apabila Washington menghentikan apa yang ia sebut sebagai kebijakan bermusuhan terhadap negaranya. Pernyataan itu disampaikan dalam kongres Partai Buruh Korea dan dilaporkan media pemerintah pada Kamis.
Kim menyatakan tidak ada alasan bagi Korea Utara untuk menolak berinteraksi dengan AS selama negara tersebut menghormati status kenegaraan Korea Utara sebagaimana tercantum dalam konstitusinya. Ia menekankan bahwa pengakuan atas kedaulatan dan penghentian tekanan politik maupun militer menjadi syarat utama bagi normalisasi hubungan kedua negara.
"Kita tidak punya alasan untuk tidak bergaul dengan Amerika Serikat jika negara itu menghormati status negara kita saat ini, sebagaimana didefinisikan dalam Konstitusi Korea Utara, dan menghentikan kebijakan permusuhannya terhadap Korea Utara," kata Kim dalam pidatonya.
Ia juga memperingatkan bahwa Pyongyang akan merespons setimpal apabila Washington tetap mempertahankan sikap konfrontatif. Menurutnya, arah hubungan bilateral sepenuhnya bergantung pada langkah yang akan diambil pemerintah AS dalam waktu mendatang.
"Baik itu hidup berdampingan secara damai atau konfrontasi abadi, kami siap untuk keduanya," ujarnya, seraya mengisyaratkan bahwa opsi dialog maupun eskalasi sama-sama terbuka.
Di sisi lain, Kim menolak usulan dialog terbaru dari Korea Selatan dan menyebutnya sebagai langkah yang menipu. Penolakan tersebut mempertegas bahwa ketegangan antar-Korea masih membayangi situasi di Semenanjung Korea meskipun wacana diplomasi kembali mencuat.
Komentar Kim muncul di tengah spekulasi mengenai kemungkinan dinamika diplomatik baru menjelang rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok yang diperkirakan berlangsung pada April. Agenda kunjungan tersebut dinilai sejumlah pengamat dapat memengaruhi konfigurasi hubungan antara Washington dan Pyongyang.
Menanggapi pernyataan Kim, kantor kepresidenan Korea Selatan menyatakan akan tetap melanjutkan upaya membangun hidup berdampingan secara damai di Semenanjung Korea. Pemerintah Seoul menilai komunikasi dan pengurangan retorika permusuhan menjadi langkah penting untuk menciptakan stabilitas jangka panjang.
"Pemerintah kami akan terus berupaya untuk membuka masa depan kemakmuran bersama di mana kedua Korea dapat hidup berdampingan secara damai dan makmur bersama. Untuk tujuan ini, Korea Selatan dan Korea Utara harus menahan diri dari retorika yang bermusuhan dan konfrontatif serta membangun fondasi saling menghormati dan percaya," kata seorang pejabat senior kepresidenan.
Secara terpisah, Korea Utara menggelar parade militer di Pyongyang untuk menandai kongres partai. Dalam pidatonya pada acara tersebut, Kim memuji Tentara Rakyat Korea atas loyalitasnya dan menyebutnya sebagai kekuatan inti penjaga kedaulatan negara.
"Tentara kita akan melancarkan serangan balasan yang mengerikan kepada pasukan mana pun begitu mereka melakukan tindakan militer bermusuhan yang melanggar kedaulatan nasional dan kepentingan keamanan kita," kata Kim sebagaimana dikutip Kantor Berita Pusat Korea.
Pada hari yang sama, pemerintah Tiongkok turut menyerukan perdamaian di Semenanjung Korea menyusul penolakan dialog oleh Pyongyang. Beijing menegaskan stabilitas kawasan merupakan kepentingan bersama seluruh pihak yang terlibat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menyatakan negaranya memperhatikan perkembangan situasi secara dekat. Ia menambahkan bahwa semua pihak diharapkan menahan diri dan bekerja menuju penyelesaian damai demi menjaga keamanan regional.




