Kenangan Puasa Pertama Seorang Balita di Sumatra Barat
Kalau diminta bercerita tentang nostalgia cerita pertama kali puasa, sepertinya tidak semuanya saya ingat dengan detail. Waktu itu saya masih kecil sekali. Tahun 1992, usia saya baru lima tahun, balita banget, tapi sudah duduk di kelas satu sekolah dasar. Banyak bagian yang sudah samar, tapi ada juga yang masih jelas sekali di kepala saya sampai sekarang.
Sebenarnya saya sudah belajar puasa sejak usia empat tahun, tapi masih puasa setengah hari. Biasanya sampai zuhur saja. Begitu azan zuhur berkumandang, ibu akan bilang saya sudah boleh minum. Rasanya sudah bangga sekali, merasa sudah seperti anak besar.
Tahun 1992 sedikit berbeda. Itu pertama kalinya saya mencoba puasa penuh satu hari. Dari sahur sampai magrib. Bagi anak lima tahun, itu tentu saja sebuah tantangan besar.
Kami tinggal di sebuah kampung di Sumatra Barat. Suasananya masih sangat sederhana. Rumah tidak berdempetan, halaman luas, dan hampir setiap rumah punya tanaman atau kebun kecil. Slow living banget, hidup tidak tergesa-gesa seperti zaman sekarang.
Hal yang paling saya ingat dari puasa pertama itu adalah momen sahur. Bangun sahur buat anak kecil itu bukan perkara mudah. Ibu saya punya cara sendiri untuk membangunkan anak-anaknya.
Ia biasanya masuk ke kamar sambil membawa segayung air. Bukan untuk menyiram saya, tentu saja, tapi untuk membasahi tangannya. Lalu tangan yang sudah basah itu dioleskan ke telapak kaki saya.
Rasanya dingin dan sedikit menggelitik. Kadang saya menarik kaki, kadang pura-pura tidak dengar. Ibu tetap sabar.
Sekarang ketika saya sudah dewasa, saya baru sadar, membangunkan anak kecil sahur setiap hari bukan pekerjaan gampang. Butuh kesabaran, konsistensi, dan melakukannya tanpa keluhan, tetap berkasih sayang. Tanpa saya sadari, mungkin di situlah saya sedang dibesarkan.
Subuh-subuh itu dulu terasa biasa saja. Saya palingan hanya mengantuk, kadang malas, ingin menarik selimut lagi. Tapi orang tua saya tidak pernah bosan mengulang kebiasaan itu.
Setiap Ramadan, setiap hari, pola yang sama. Bangun, makan sahur, salat Subuh, lalu bersiap menjalani hari.




