Kenaikan Harga Pangan Menyulitkan Mahasiswa Jelang Ramadhan
Nadir Media - JAKARTA, ISLAMI.CO – Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, sayangnya kondisi perekonomian terpuruk dan bisa jadi melampaui keberkahan yang dimiliki masyarakat Indonesia. Keluhan tentang mahalnya harga bahan pangan sudah terdengar di kalangan masyarakat, tak terkecuali para mahasiswa perantauan yang harus pintar-pintar mengatur keuangan di tengah tekanan ekonomi.
“Kemarin saja harga ayam udah 48 ribu,” curhat Komar, mahasiswa semester akhir yang tinggal di kost kawasan Jakarta Timur, kepada Islami.co Selasa (24/2/2026).
Mahasiswa asal Brebes ini mengaku kaget dengan lonjakan harga yang terjadi menjelang Ramadhan tahun ini. Ia biasa membeli ayam dengan harga Rp 35 ribu hingga Rp 38 ribu per kilogram di pasar tradisional dekat tempat tinggalnya.
“Ini lumayan banget kenaikannya. Biasanya Rp 35 ribu sekarang Rp 48 ribu. Untuk anak kost seperti saya, ini pengeluaran membengkak,” ujarnya sambil sambil menyalakan penanak nasi.
Keluhan Komar tak berujung sampai di situ, kenaikan harga juga terjadi pada telur dan sayuran. Ia terpaksa memutar otak agar uang bulanan dari orang tua cukup hingga akhir bulan.
“Ya kalau kayak begini mah bisa apa? Makan seadanya saja. Masak bareng-baring masih bisa, tapi porsinya masih kurang,” keluhnya.
Tekanan Ekonomi di Bulan Ramadhan
Keluhan Komar sejalan dengan data di lapangan. Berdasarkan pantauan di beberapa pasar tradisional Jakarta, harga ayam ras memang mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir.
Seorang pedagang ayam di Pasar Kopro (Tomang Barat), Jakarta Barat, membenarkan bahwa harga ayam ikut merangkak naik meskipun tidak setajam cabai dan bawang. Harga ayam saat ini berada di kisaran Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram, tergantung kualitas.
“Biasanya di Rp 35 ribu – Rp 38 ribu. Sekarang naik jadi Rp 45 ribu sampai Rp 48 ribu. Stok dari pemasok juga mulai berkurang karena permintaan naik menjelang puasa,” ujar pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Nuh, pedagang lain di pasar Kopro juga mengeluhkan kenaikan harga bahan pokok. Ia mengatakan bahwa harga cabai rawit merah tembus Rp 110.000 per kilogram, bawang merah naik menjadi Rp 55.000 per kilogram, dan telur berada di Rp 31.000 per kilogram.
Di sisi lain, data penjualan kurma juga menunjukkan tren penurunan hingga 15 persen akibat melemahnya daya beli masyarakat. Hal ini memperkuat indikasi bahwa meskipun secara statistik inflasi tahunan relatif terkendali, gejolak harga komoditas pangan pokok tetap terasa berat di kantong masyarakat.
Berharap Harga Stabil
Komar berharap pemerintah segera turun tangan mengendalikan harga pangan, terutama menjelang Ramadhan seperti sekarang.
“Semoga ada operasi pasar atau apalah biar harga turun. Kasian ibu-ibu juga yang belanja buat keluarga. Saya sendiri sebagai mahasiswa udah kewalahan, apalagi mereka yang punya tanggungan lebih,” pungkasnya.
Ia mengaku akan lebih selektif dalam berbelanja walaupun berat ia mengakuinya. Ia berencana mengurangi konsumsi daging ayam dengan beralih ke lauk yang lebih terjangkau seperti tempe dan telur, meski harga telur juga ikut naik.
“Ya mau gimana lagi, yang penting bisa melewati Ramadhan dengan sehat. Mungkin nanti sahur dan buka cukup menu warteg 5 ribu, yang penting berkah,” tutup Komar sambil tersenyum getir.
Asbabur Riyasy
Aktivis dan Jurnalis. Penulis di Islami.co
Topik:
ayam harga
Dukung Kami untuk Terus Menginspirasi
islami.co dihidupi oleh jaringan penulis, videomaker dan tim editor yang butuh dukungan untuk bisa memproduksi konten secara rutin. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kerja-kerja kami dalam memproduksi artikel, video atau infografis yang mengedukasi publik dengan ajaran Islam yang ramah, toleran dan mencerahkan, kami akan sangat berterima kasih karenanya. Sebab itu sangat membantu dan meringankan.
Donasi Sekarang




