Kemuliaan Manusia Ditentukan oleh Adab, Bukan Nasab
Sumber Foto: Muslim Obsession
Nadir Fokus

Kemuliaan Manusia Ditentukan oleh Adab, Bukan Nasab

Dalam pandangan Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang paling mulia, bahkan lebih mulia dibandingkan malaikat. Hal ini diungkapkan oleh Nadirsyah Hosen, yang merupakan Ra’is Syuriah pengurus cabang istimewa Nahdlatul Ulama (NU) di Australia dan Selandia Baru, melalui akun Instagramnya pada 8 November 2021.

Gus Nadir, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada keturunan, budaya, atau harta yang dimiliki. Sebaliknya, kemuliaan tersebut justru muncul ketika manusia menggunakan akal dan hati mereka untuk mencapai derajat takwa. Ia menekankan bahwa derajat takwa adalah ciri khas bagi orang-orang yang memiliki keimanan, ketaatan, kesadaran diri, ilmu, serta akhlak yang baik.

Menurut Gus Nadir, karakter mulia ini ada dalam diri manusia yang bertakwa. Artinya, seorang yang bertakwa telah mencapai prestasi dalam ilmu pengetahuan, iman, dan adab yang luhur. Dalam pandangannya, kemuliaan sejati berasal dari adab atau budi pekerti, bukan dari nasab atau silsilah keluarga. Ia menegaskan, "Membanggakan nasab, tanpa memiliki adab dan capaian prestasi, justru dapat membuat malu nama keluarga."

Dengan pernyataan ini, Gus Nadir mendorong masyarakat untuk lebih menghargai adab dan keutamaan moral, ketimbang sekadar kebanggaan atas latar belakang keluarga. Ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi haruslah menjadi prioritas utama dalam kehidupan.