Kemenag Latih Konten Kreator untuk Pemahaman Hilal Menjelang Ramadhan
waktu baca 3 menit
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama akan melatih para konten kreator dan pemengaruh (influencer) muda untuk belajar soal pengamatan hilal (rukyatul hilal) yang selama ini menjadi basis pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan atau Idul Fitri.
Kemenag membuka pendaftaran bagi mereka yang tertarik, dengan kuota hingga 1.000-an peserta. Mereka yang terpilih akan mengikuti pelatihan secara daring dan luring yang akan dilaksanakan pada Selasa 17 Februari 2026.
“Persoalan hilal bukan isu baru. Sejak masa Rasulullah, umat sudah bertanya tentangnya. Karena itu, penjelasannya harus berbasis ilmu, bukan asumsi atau spekulasi,” ujar Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Program bertema Yasalūnaka ‘an al-Ahillah: Hilal Observation Coaching ini diperuntukkan bagi kreator konten dan influencer berusia maksimal 35 tahun, berdomisili Jabodetabek, serta memiliki akun media sosial aktif dengan minimal 3.000 pengikut.
Arsad mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menjembatani pemahaman masyarakat terhadap proses penetapan awal Ramadhan yang dilakukan pemerintah melalui pendekatan keilmuan dan syar’i.
Menurut Arsad, di tengah derasnya arus informasi digital, kreator konten memiliki peran strategis dalam menyampaikan isu-isu keagamaan kepada publik. Pemahaman yang utuh tentang hisab dan rukyat menjadi kunci agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat.
Ia menjelaskan melalui Hilal Observation Coaching, peserta tidak hanya diperkenalkan pada hasil penetapan awal bulan Hijriah, tetapi juga diajak memahami proses ilmiah di baliknya, mulai dari konsep hilal, parameter astronomis, hingga mekanisme pengambilan keputusan oleh pemerintah.
“Kami ingin para konten kreator memahami prosesnya secara menyeluruh. Dengan begitu, konten yang disampaikan kepada masyarakat bersifat edukatif, menyejukkan, dan memperkuat kepercayaan publik,” katanya.
Menurut dia, kegiatan ini dikemas melalui pendekatan edukasi, simulasi, dan visualisasi pengamatan hilal. Peserta akan dikenalkan dengan instrumen rukyat serta cara menyampaikan informasi falak secara sederhana namun tetap akurat.
Ia menyebut Kementerian Agama terus membuka ruang kolaborasi dengan generasi muda untuk memperkuat literasi keislaman yang moderat dan berwawasan ilmiah, khususnya dalam isu-isu yang kerap menjadi perhatian publik menjelang Ramadhan.
“Dengan edukasi yang tepat, perbedaan dalam penentuan awal bulan dapat disikapi secara dewasa, saling menghormati, dan tetap dalam bingkai persatuan,” katanya.
Kegiatan ini digelar secara hybrid, 30 peserta dengan pengikut terbanyak akan diundang untuk bergabung secara offline di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama Jl. MH. Thamrin No.6 Jakarta Pusat, dan akan dibuka untuk 1.000 peserta dari masyarakat umum yang akan mengikuti secara daring.
Arsad berharap para peserta dapat menjadi mitra strategis Kementerian Agama dalam menyebarkan literasi keislaman yang berbasis ilmu pengetahuan, sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh dan proporsional tentang penetapan awal Ramadhan.
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




