Kebahagiaan Perempuan Muda Menurun: Sebuah Tinjauan Menyeluruh
Sumber Foto: Republika.id
Sudut Nadir

Kebahagiaan Perempuan Muda Menurun: Sebuah Tinjauan Menyeluruh

Kebahagiaan di kalangan anak perempuan dan perempuan muda di Inggris telah mencapai titik terendah sejak 2009, menurut hasil jajak pendapat terbaru dari Girlguiding. Survei ini menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh perempuan berusia antara tujuh hingga 21 tahun merasa khawatir atau cemas mengenai berbagai isu yang mereka hadapi.

Angela Salt, ketua eksekutif gerakan tersebut, menyoroti bahwa hanya 17 persen anak perempuan dalam rentang usia ini yang merasa sangat bahagia, angka yang jauh menurun dibandingkan 40 persen pada tahun 2009. Penurunan paling dramatis terjadi pada anak perempuan berusia tujuh hingga sepuluh tahun, di mana hanya 28 persen yang mengaku bahagia, turun drastis dari lebih dari setengahnya pada tahun 2009.

Dalam survei yang melibatkan 2.614 responden ini, banyak perempuan muda yang mengungkapkan perasaan negatif terkait citra tubuh dan masalah yang timbul dari interaksi di dunia daring. Salt menyatakan bahwa mereka terus menghadapi tantangan yang berdampak negatif pada kesejahteraan mereka, termasuk kekerasan daring dan pelecehan seksual. Selain itu, mereka juga merasa tertekan oleh ekspektasi yang tidak realistis yang muncul dari media sosial.

Data menunjukkan bahwa dua pertiga dari anak-anak berusia 11 hingga 21 tahun sering merasa malu dengan penampilan mereka, terutama karena mereka tidak terlihat seperti perempuan yang ditampilkan di media sosial. Angka ini meningkat dari setengahnya lima tahun lalu. Selain itu, tren mengkhawatirkan juga terlihat dalam pengurangan kesetaraan gender, di mana hanya satu dari empat anak perempuan yang merasa mendapatkan kesempatan yang setara dengan laki-laki.

Sementara itu, kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga juga menjadi isu yang signifikan. Eni Widiyanti, Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Rentan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengungkapkan bahwa 73,1 persen kekerasan terhadap perempuan terjadi di rumah tangga. Pelaku kekerasan sebagian besar adalah suami, yang menyumbang 56,3 persen dari kasus yang dilaporkan.

Data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2021 menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan berusia 15 hingga 64 tahun pernah mengalami kekerasan dalam hidup mereka, dan satu dari sembilan perempuan mengalami kekerasan fisik. Bentuk kekerasan yang paling banyak dialami adalah pembatasan perilaku, yang mencapai 30,9 persen.

Salt menekankan bahwa situasi ini sangat memprihatinkan dan menggambarkan kemunduran dalam kebahagiaan dan kesejahteraan perempuan muda. Meskipun demikian, ada harapan yang muncul dari semakin banyaknya perempuan yang bersuara dan berkampanye mengenai isu-isu yang mereka pedulikan, serta meningkatnya partisipasi dalam aksi protes.

Secara keseluruhan, data ini mencerminkan tantangan yang kompleks dan mendalam yang dihadapi oleh perempuan muda saat ini, baik dari segi kesehatan mental maupun kekerasan yang mereka alami. Memahami dan menangani isu-isu ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan di masa depan.