Kasus Keracunan Makanan di Aceh dan Roti Berjamur di Jombang Warnai Program Makan Bergizi Gratis
Nadir Media - RADARBANDUNG.ID, BIREUEN – Deretan insiden anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan pasca mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bermunculan.
Dalam beberapa hari terakhir, kasus MBG itu terjadi di berbagai daerah.
Terbaru kasus MBG terjadi di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.
Baca juga: Terjebak di Tebing Pantai di Bali, Dua Warga Rusia Diselamatkan dengan Kabel dari Heli
Ratusan anak harus menjalani perawatan seusai mengonsumsi menu MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Meunasah Mamplam, Kecamatan Simpang Mamplam.
Berdasarkan data yang dihimpun Rakyat Aceh Grup Jawa Pos hingga kemarin (27/2/2026), sedikitnya 140 anak dari wilayah Kecamatan Simpang Mamplam dan Kecamatan Pandrah mendapatkan perawatan intensif di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes).
Tim kesehatan beserta armada di sejumlah wilayah barat Bireuen bersama tim PSC 119 silih berganti mengevakuasi korban dari puskesmas menuju RSUD dr Fauziah dan berbagai rumah sakit.
”Kami langsung memberikan pertolongan pertama, kami sangat kewalahan karena petugas dan peralatan medis terbatas, ditambah jumlah korban hingga ratusan siswa,” ujar Kepala Puskesmas Simpang Mamplam Suryani.
Ia mengatakan, pihaknya telah mengerahkan seluruh petugas. Ada yang dibawa ke puskesmas tetangga, juga ada yang dirujuk ke RSUD Fauziah.
”Sebagian ditangani di sejumlah polindes di Kecamatan Simpang Mamplam. Karena keterbatasan kapasitas, sejumlah pasien terpaksa dirujuk ke puskesmas lain,” katanya.
Baca juga: Tabrakan dengan KA Argo Bromo, Mobil Pengantar Haji Terlempar 10 Meter, Pasangan Jemaah Selamat tapi Cucu dan Besan Meninggal
Ia menyebutkan, anak-anak yang terdiri dari siswa SD dan SMP mulai berdatangan ke puskesmas setelah berbuka puasa.
Mereka diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap MBG yang dibagikan sore harinya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, paket makanan tersebut diantar langsung ke rumah siswa selama Ramadan.
Baca juga: Klaim JHT BPJS Ketenagakerjaan Mudah Lewat Aplikasi JMO
Yang mendistribusikan adalah Yayasan Bumi Produksi Gizi. Selama bulan puasa, distribusi dilakukan dengan sistem door to door untuk menghindari pembagian di sekolah.
Sementara itu, perwakilan Yayasan Bumi Produksi Gizi, Zamzami, mengatakan pihaknya masih menelusuri penyebab dugaan keracunan itu.
”Kami sedang mengecek di pemasok, di mana permasalahannya. Karena kami mengambil bahan dari supplier UMKM lokal. Informasi sementara mungkin di menu bakso,” ujarnya.
Ia mengatakan, tim yayasan telah diturunkan untuk memeriksa seluruh rangkaian proses, mulai dari bahan baku hingga penyajian.
”Apakah dari menu atau proses lainnya, semua harus dicek,” kata Zamzami.
Menurutnya, selama Ramadan, yayasan juga menyediakan menu kering sebagai alternatif. Seluruh menu telah melalui pengawasan ahli gizi.
Namun, ia mengaku belum mengetahui jumlah pasti korban maupun penyebab kejadian itu.
”Kami berharap tidak ada korban lanjutan. Soal pertanggungjawaban, tentu kami bertanggung jawab dan akan mengevaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Zamzami.
Uji Laboratorium di Cimahi
Baca juga: Penghapusan Prodi Sepenuhnya Kendali Kampus, Kemendiktisaintek Pastikan Penutupan Jurusan Tak Akan Hilangkan Ilmu Tertentu
Sementara itu, pasca dugaan insiden keracunan massal akibat menu MBG di Kota Cimahi pada Rabu (25/2) lalu, tim Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengambil sampel menu MBG dari SPPG Karangmekar 2 kemarin (27/2/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sampel yang dibawa di antaranya menu onigiri hingga telur.
Kepala Dinkes Kota Cimahi Mulyati menjelaskan sampel tersebut sudah diambil sesuai SOP agar penyebab pasti keracunan dapat diketahui.
”Tata laksana sudah dilakukan, (penanganan) sampel makanan juga sesuai dengan SOP dari BGN,” katanya.
Selain mengambil sampel makanan, Dinkes juga melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap operasional SPPG.
”Teman-teman memerhatikan dalam inspeksi kesehatan lingkungan dilakukan kembali, cara mengolah makanan, yang terpenting adalah terkait kebersihan lingkungan SPPG,” katanya.
Baca juga: BRI bersama Rumah Zakat Hadirkan Layanan Kurban Digital di BRImo
Mulyati menegaskan bahwa operasional SPPG Karangmekar 2 telah dihentikan oleh BGN untuk sementara waktu.
”Ditutup sampai dinyatakan boleh operasional sama BGN, sampai semuanya persyaratan dipenuhi,” tandasnya.
Di Jombang, jalannya program MBG kembali diwarnai insiden mengejutkan.
Di Desa Sambongdukuh, Kecamatan Jombang, puluhan roti berjamur ditemukan dalam paket MBG yang dibagikan pada Rabu (25/2). Total 77 roti tak layak konsumsi tersebar di tujuh titik pembagian.
Keluhan pertama mencuat dari para ibu balita anggota posyandu. LW, warga Desa Sambongdukuh.
Baca juga: Jelang Puncak Ibadah Haji, Timwas Haji DPR Imbau Jemaah Waspadai Hantavirus
Pada Rabu pagi ia menerima paket berisi roti dalam kemasan plastik beserta jeruk dan susu UHT kecil dari SPPG Tambakrejo 3. Namun, jamur pada roti baru terlihat saat hendak dikonsumsi sore hari. ”Tahunya itu sore pas waktu mau dimakan,” lanjutnya.
Roti tersebut akhirnya dibuang karena khawatir membahayakan kesehatan balita. ”Akhirnya ya dibuang, dari SPPG Tambakrejo 3,” pungkasnya.
Kepala Desa Sambongdukuh Khairurroziqin membenarkan laporan tersebut. Setelah dicek, jumlahnya lebih dari satu kasus. ”Sudah kami sampaikan ke PIC atau kader penerima untuk didata dan dikembalikan, karena tentu tidak boleh diberikan,” tegasnya saat dikonfirmasi Kamis (26/2) malam.
Dijelaskan, sekitar 500 balita anggota posyandu di desanya menerima pasokan MBG setiap hari sejak Desember 2025. Selama ini relatif aman. Karena itu, ia langsung meminta pihak penyedia bertanggung jawab. ”Saya juga sudah menghubungi kepala dapurnya untuk minta diganti. Sudah dijanjikan diganti, tapi sampai hari ini belum,” ujarnya.
Terpisah, Kepala SPPG Tambakrejo 3 Paramananda Nur S mengakui temuan tersebut berasal dari dapurnya. ”Ya memang itu roti dari kami, sudah kami mintakan retur ke supplier. Saat ini sudah terkumpul datanya dan akan saya serahkan ke supplier,” terangnya (26/2) malam.
Ia menyebut, dari total 2.846 porsi yang didistribusikan hari itu, ditemukan 77 roti berjamur di tujuh lokasi. Nanda mengakui adanya kelalaian dalam pengecekan. ”Pada saat kedatangan, roti dalam keadaan terbungkus. Tampak luar bagus,” jelasnya.
Kasus ini menambah daftar persoalan kualitas MBG di Jombang. Sebelumnya, menu dari SPPG Jogoroto sempat dikeluhkan karena dinilai minim dan tak layak, hanya berisi ketela rebus, kering tempe, dan sebuah jeruk. Setelah viral dan sempat ditolak salah satu sekolah, menu tersebut diganti. Pihak SPPG menyebut ada kesalahan teknis dalam penataan. (akh/rif/kro/riz/naz/ris/Jawa Pos)




