Jepang Berhasil Ekstraksi Tanah Jarang dari Laut Dalam untuk Kurangi Ketergantungan pada Tiongkok
Sumber Foto: Mureks
Internasional

Jepang Berhasil Ekstraksi Tanah Jarang dari Laut Dalam untuk Kurangi Ketergantungan pada Tiongkok

Tren

TOKYO – Jepang berhasil mengambil sedimen yang mengandung unsur tanah jarang dari kedalaman laut hingga 6.000 meter dalam sebuah misi uji coba. Pencapaian ini diumumkan pemerintah pada Senin (2/2), sebagai bagian dari upaya Tokyo untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok, pemasok mineral bernilai tinggi terbesar di dunia.

Misi ini diklaim Jepang sebagai upaya pertama di dunia yang berhasil mengekstraksi unsur tanah jarang dari laut dalam pada kedalaman ekstrem tersebut. Juru bicara pemerintah, Kei Sato, menyatakan bahwa rincian mengenai kandungan unsur tanah jarang dalam sampel akan dianalisis lebih lanjut. “Ini adalah sebuah pencapaian yang bermakna, baik dari sisi keamanan ekonomi maupun pengembangan maritim secara menyeluruh,” ujar Sato, sebagaimana dihimpun Mureks.

Baca Juga:

Konflik Timur Tengah Memanas: Bandara Dubai Lumpuh, Ribuan Penerbangan Global Terdampak

Konflik AS-Iran Guncang Ekonomi Global, Pertumbuhan Indonesia Terancam di Bawah 5 Persen

Inter Milan Semakin Tak Terbendung di Puncak Serie A 2025/2026 Setelah Kalahkan Genoa 2-0

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Sampel mineral krusial ini dikumpulkan menggunakan kapal pengeboran ilmiah laut dalam bernama Chikyu. Kapal tersebut berlayar bulan lalu menuju Pulau Minami Torishima, sebuah pulau terpencil di Samudra Pasifik, yang perairannya diyakini menyimpan cadangan mineral bernilai tinggi dalam jumlah besar.

Langkah strategis Jepang ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Tiongkok. Sebelumnya, Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November lalu sempat menyatakan bahwa Tokyo kemungkinan akan merespons secara militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan, wilayah yang diklaim Beijing dan siap direbut dengan kekuatan jika diperlukan. Beijing sendiri telah memblokir ekspor sejumlah barang “berpenggunaan ganda” yang berpotensi untuk kepentingan militer ke Jepang, memicu kekhawatiran akan pasokan unsur tanah jarang yang sebagian masuk dalam daftar barang tersebut.

Unsur tanah jarang, yang terdiri atas 17 jenis logam, dikenal sulit diekstraksi dari kerak bumi. Mineral ini sangat vital dalam berbagai produk modern, mulai dari kendaraan listrik, hard disk, turbin angin, hingga sistem persenjataan canggih. Catatan Mureks menunjukkan, wilayah sekitar Minami Torishima, yang berada dalam zona ekonomi Jepang, diperkirakan mengandung lebih dari 14,5 juta ton unsur tanah jarang. Angka ini, menurut harian bisnis Nikkei, menjadikannya cadangan terbesar ketiga di dunia.

Endapan tersebut diperkirakan mencakup pasokan disprosium selama 730 tahun, yang esensial untuk magnet berkekuatan tinggi pada ponsel dan mobil listrik. Selain itu, terdapat pula pasokan yttrium selama 780 tahun yang digunakan dalam teknologi laser, demikian laporan Nikkei.

Meski demikian, upaya penambangan laut dalam ini tidak lepas dari kekhawatiran lingkungan. Aktivis lingkungan memperingatkan bahwa praktik semacam ini dapat mengancam ekosistem laut dan berpotensi mengganggu dasar laut. Isu ini juga menjadi sorotan geopolitik, terutama dengan adanya dorongan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mempercepat praktik penambangan laut dalam di perairan internasional.

Otoritas Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority/ISA), yang memiliki yurisdiksi atas dasar laut di luar perairan nasional, saat ini tengah berupaya menerapkan kode global untuk mengatur penambangan di laut dalam. Namun, misi uji coba Jepang ini dilakukan di dalam wilayah perairannya sendiri. Takahiro Kamisuna, seorang peneliti di The International Institute for Strategic Studies (IISS), menegaskan pentingnya keberhasilan Jepang. “Jika Jepang berhasil mengekstraksi unsur tanah jarang di sekitar Minami Torishima secara berkelanjutan, hal itu akan mengamankan rantai pasok domestik bagi industri-industri utama,” kata Kamisuna kepada AFP.

Jepang Minami Torishima Penambangan Laut Dalam Tanah Jarang Tiongkok