Gus Nadir: Perdebatan Pelafalan Al-Fatihah Jangan Berhenti pada Lafal
Sumber Foto: NU Online
Nadir Fokus

Gus Nadir: Perdebatan Pelafalan Al-Fatihah Jangan Berhenti pada Lafal

Jakarta — Pengucapan surat Al-Fatihah dengan lafal “al-Fatekah” oleh Presiden Joko Widodo menjadi viral dan ramai dibahas warganet. Menanggapi hal tersebut, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia dan Selandia Baru KH Nadirsyah Hosen turut memberikan pandangannya melalui akun Twitter @na_dirs.

Ulama yang akrab disapa Gus Nadir itu menyebut bahwa dalam sejarah Islam terdapat contoh kelonggaran terkait pelafalan dan penyampaian Al-Fatihah. Ia menulis bahwa Rasulullah pernah mengizinkan Salman Al-Farisi untuk menuliskan Al-Fatihah dalam bahasa Parsi guna mengajari mereka yang belum fasih melafalkan huruf Arab.

Menurut Gus Nadir, orang yang memahami kandungan ayat ke-3 dan ke-4 surat Al-Fatihah tidak akan mempertentangkan penyebutan “Al-Fatihah” dan “Al-Fatekah”. Ia menilai, melalui dua ayat tersebut, Al-Fatihah memuat gabungan antara tasawuf dan syariat.

Dosen senior pada Sekolah Hukum Universitas Monash, Australia itu juga mengingatkan bahwa perdebatan yang berujung pada olok-olok, menurutnya, berisiko berhenti pada aspek lafal semata. Ia menuliskan bahwa sikap demikian bisa jadi menunjukkan seseorang belum sampai pada pemahaman makna, melainkan masih fokus pada ucapan.

Qiraat ‘Asyrah dan ragam bacaan

Gus Nadir kemudian menyinggung adanya qiraat ‘asyrah, yakni 10 macam pembacaan Al-Qur’an dalam literatur keislaman, yang disebutnya boleh dibaca. Ia menekankan bahwa hal tersebut menunjukkan Al-Fatihah tidak semata-mata soal pelafalan.

Untuk menggambarkan ragam bacaan itu, ia membagikan tautan video yang menampilkan 10 gaya pembacaan surat Al-Fatihah. Salah satu contoh perbedaan yang ia sebut adalah pada ayat terakhir, ketika kata ‘alayhim dibaca ‘alayhum. Menurutnya, dalam ilmu qiraat, perbedaan seperti itu memiliki pembahasan yang panjang.

Di akhir pernyataannya, Gus Nadir mengajak publik untuk menyadari luasnya ilmu serta merendahkan kesombongan dalam menyikapi perbedaan cara baca.