Gus Nadir Menghadapi Hujatan di Media Sosial Usai Berkomentar tentang Konflik PBNU
Sumber Foto: ketik.com
Sudut Nadir

Gus Nadir Menghadapi Hujatan di Media Sosial Usai Berkomentar tentang Konflik PBNU

Nadirsyah Hosen, yang akrab disapa Gus Nadir, mengungkapkan bahwa ia menjadi sasaran kritik di media sosial setelah mengemukakan pendapatnya mengenai konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Meskipun ia menegaskan bahwa pandangannya didasarkan pada analisis hukum dan keorganisasian, banyak pihak yang menuduhnya berpihak pada salah satu kubu dalam konflik tersebut.

Dalam sebuah diskusi yang ditayangkan di kanal YouTube Mahfud MD, Gus Nadir menceritakan tekanan yang ia alami setelah memberikan pendapat terkait situasi di PBNU. Ia menyebutkan bahwa ia merasa "babak belur" di media sosial karena dianggap mendukung satu pihak. "Sekarang ikut ngomong saja sudah takut. Nanti dibilang memihak A atau B," ujarnya, menekankan bahwa ia hanya berusaha menjelaskan permasalahan dari sudut pandang hukum dan tata organisasi, bukan untuk kepentingan politik internal.

Gus Nadir menilai bahwa kondisi PBNU saat ini sangat sensitif dan setiap pernyataan dapat dipelintir sesuai kepentingan kelompok tertentu. Hal ini menyebabkan banyak individu yang seharusnya ingin memberikan kontribusi positif lebih memilih untuk tetap diam.

Ia juga mengangkat isu mengenai dilema antara kepatuhan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta tradisi ketaatan kepada kiai. Gus Nadir menggambarkan perdebatan ini sebagai "persimpangan jalan" bagi NU di era modern. Menurutnya, AD/ART sangat penting sebagai instrumen organisasi modern, namun nilai-nilai barokah dan kharisma ulama tetap menjadi jiwa dari Nahdlatul Ulama.

Walaupun mengalami banyak tekanan, Gus Nadir tetap berkomitmen untuk mendorong upaya islah di PBNU. Ia mengingatkan pentingnya mencari solusi yang menyeluruh, karena tanpa itu, konflik yang terjadi akan terus berulang dengan pola yang sama. "NU membutuhkan jalan damai yang tidak hanya legal-formal, tetapi juga diterima secara kultural oleh seluruh warga jam’iyah," tambahnya.