GoTo Menghadapi Tantangan Besar di Tengah Isu Merger dengan Grab
Sumber Foto: Kompas.com
Nadir Fokus

GoTo Menghadapi Tantangan Besar di Tengah Isu Merger dengan Grab

PT Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), satu-satunya perusahaan teknologi berstatus decacorn di Indonesia, kini berada dalam situasi yang sangat menantang. Setelah melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2022 dengan valuasi sekitar Rp 400 triliun, kinerja keuangan dan nilai saham GOTO terus mengalami tekanan, dan saat ini muncul kembali isu mengenai potensi akuisisi oleh rivalnya, Grab.

Sejak melakukan IPO, GoTo menghadapi banyak kesulitan, termasuk penjualan Tokopedia kepada ByteDance dan dua kali pergantian CEO. Kini, rumor mengenai merger dengan Grab semakin menguat, dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dilaporkan terlibat dalam penjajakan transaksi tersebut.

Kondisi Terkini GoTo

Rumor tentang merger ini menarik perhatian karena kedua perusahaan, GoTo dan Grab, memegang sekitar 90 persen pangsa pasar dalam layanan ride-hailing dan pengantaran makanan di Indonesia. Bisnis kedua raksasa ini melibatkan sekitar 10 juta mitra pengemudi dan UMKM, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan antara 2-3 persen.

Perjalanan GoTo tidaklah mulus. IPO yang dilakukan di tengah kondisi pasar yang tidak menguntungkan, ditambah dengan inflasi global yang melonjak dan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve, membuat banyak perusahaan teknologi kesulitan untuk mendapatkan pendanaan. Hal ini berdampak langsung pada GoTo yang mengalami penurunan nilai saham hingga mencapai titik terendah Rp 50, jauh dari harga IPO di Rp 338.

Merger dengan Grab: Peluang dan Tantangan

Rumor merger ini semakin menguat dengan keterlibatan BPI Danantara, yang berpotensi menjadi pemegang saham minoritas. Danantara, yang berinvestasi sekitar Rp 6,4 triliun di GoTo melalui Telkomsel, diyakini akan berfokus untuk menjaga kepentingan negara dalam proses merger.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai opsi 'golden share', yang memberi hak veto kepada pemegang saham minoritas, isu ini menunjukkan perhatian terhadap dampak merger bagi pekerja dan potensi terjadinya monopoli di sektor ekonomi gig. Jika merger ini terwujud, GoTo dan Grab akan menguasai 90 persen pasar ride-hailing dan pengantaran makanan, yang dapat menyebabkan peningkatan tarif dan biaya layanan.

Keterlibatan Pemerintah dan Implikasi Ekonomi

Keterlibatan pemerintah dalam rencana merger ini juga mencakup aspek politik, mengingat dampaknya terhadap jutaan pekerjaan yang bergantung pada kedua perusahaan. KPPU diharapkan dapat mengevaluasi dan memberikan sanksi jika merger ini menimbulkan praktik monopoli.

Dengan kondisi GoTo yang saat ini merugi, setiap keputusan mengenai merger ini akan memiliki konsekuensi jauh ke depan, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi ekosistem keuangan digital di Indonesia. GoTo dan Grab masing-masing memiliki lini usaha dompet digital yang berafiliasi dengan bank, sehingga merger ini dapat mengubah kompetisi di sektor fintech.

Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan yang mendukung kedaulatan ekonomi nasional dan kesejahteraan pekerja. Keputusan yang diambil akan menjadi preseden penting bagi masa depan ekosistem digital di Indonesia.