Fenomena Tunjangan Hari Raya (THR): Tuntutan Sosial yang Memengaruhi Makna Ramadan
JAKARTA – Cendekiawan Nahdlatul Ulama, Nadirsyah Hosen, atau yang akrab disapa Gus Nadir, mengungkapkan kegelisahannya terkait fenomena Tunjangan Hari Raya (THR) yang kini menjadi tuntutan sosial di masyarakat. Dalam sebuah unggahan di media sosial, ia menyoroti bagaimana budaya konsumtif yang meningkat selama bulan Ramadan telah menggeser makna ibadah yang sejatinya berfokus pada pengendalian diri.
Kritik Terhadap Budaya Konsumtif
Gus Nadir menyatakan, "Ramadan datang membawa cahaya. Bulan yang mengajak hati menepi, menunduk, dan menahan diri." Ia mempertanyakan mengapa masyarakat lebih cenderung berlari ke pasar daripada beribadah, dan mengapa lebih sibuk menghitung diskon daripada merenungkan dosa.
Ia mencatat bahwa pola konsumsi masyarakat selama Ramadan justru meningkat drastis dibandingkan bulan-bulan lainnya. Menurut Gus Nadir, hal ini bertentangan dengan esensi puasa yang mengajarkan kesederhanaan dan empati terhadap mereka yang kurang beruntung. "Di mana letak menahan diri dan merasakan kelaparan serta penderitaan orang miskin, jika meja makan kita justru lebih penuh dibanding hari biasa?" ujarnya.
Tekanan Sosial dalam Permintaan THR
Lebih lanjut, Gus Nadir juga menyoroti fenomena THR yang belakangan ini ramai diperbincangkan. Ia mencatat bahwa permintaan THR tidak lagi hanya berlaku di lingkungan kerja formal, tetapi juga muncul dalam bentuk tekanan sosial yang melibatkan berbagai pihak, seperti organisasi masyarakat, oknum pemerintah, dan aparat tingkat RT/RW.
"Maraknya permintaan THR oleh ormas, oknum pemda, oknum militer, maupun aparat kepada perusahaan, pedagang, atau warga pendatang, adalah gejala sosial yang kompleks," ungkapnya. Gus Nadir menjelaskan bahwa THR seharusnya merupakan bentuk kepedulian agar masyarakat dapat menyambut hari kemenangan dengan layak, bukan menjadi beban atau tekanan bagi yang lain.




