Fenomena Nadir Ka'bah Terjadi Akhir November 2021, Bisa Dimanfaatkan untuk Meluruskan Arah Kiblat
Sumber Foto: CNN Indonesia
Sudut Nadir

Fenomena Nadir Ka'bah Terjadi Akhir November 2021, Bisa Dimanfaatkan untuk Meluruskan Arah Kiblat

Pada pekan keempat November 2021, sejumlah fenomena antariksa diperkirakan terjadi, salah satunya Nadir Ka'bah. Fenomena ini berkaitan dengan posisi Matahari terhadap Ka'bah di Mekkah, Arab Saudi, dan kerap dimanfaatkan untuk membantu pengecekan arah kiblat.

Apa itu Nadir Ka'bah?

Menurut keterangan yang dikutip dari situs LAPAN, Nadir Ka'bah adalah fenomena astronomis ketika Matahari berada tepat di nadir atau titik terbawah pada tengah malam bagi pengamat yang berlokasi di Ka'bah. Karena Bumi berbentuk bulat, pada saat yang sama Matahari berada tepat di atas titik antipode Ka'bah, yakni titik di belahan Bumi yang berlawanan dengan Ka'bah, ketika tengah hari.

Kondisi tersebut menyebabkan arah bayangan Matahari pada pagi, siang, dan sore hari mengarah ke kiblat.

Jadwal Nadir Ka'bah pada 2021

Fenomena ini disebut terjadi dua kali dalam setahun. Pada 2021, Nadir Ka'bah dilaporkan telah terjadi pada 13 Januari pukul 00.20 waktu Arab Saudi atau 06.29 WIT. Peristiwa berikutnya diperkirakan terjadi pada 29 November pukul 00.09 waktu Arab Saudi atau 06.09 WIT.

Wilayah yang dapat memanfaatkan fenomena ini

Metode pemanfaatan bayangan untuk meluruskan arah kiblat hanya dapat dilakukan di wilayah yang pada saat itu Mataharinya berada di atas ufuk. Untuk Indonesia, wilayah yang disebut terdampak adalah:

  • Provinsi Maluku (kecuali Pulau Buru)
  • Provinsi Papua Barat
  • Papua
  • Timor Leste (kecuali distrik Oecussi)
  • Papua Nugini

Fenomena ini juga berlaku di Selandia Baru, sebagian besar Australia, negara-negara di Oseania, Amerika Serikat, sebagian besar Kanada, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.

Hal yang perlu diperhatikan saat mengukur arah kiblat

Untuk melakukan pengukuran kiblat dengan memanfaatkan bayangan Matahari, ada beberapa hal yang perlu dipastikan:

  • Tegak lurus: tongkat atau bandul harus diletakkan tegak lurus dengan permukaan Bumi.
  • Permukaan rata: tempat meletakkan benda dan area jatuhnya bayangan Matahari harus rata.
  • Tepat waktu: penunjuk waktu harus terkalibrasi dengan baik dan pengukuran dilakukan pada waktu yang ditentukan.

Jika cuaca kurang mendukung, pengukuran masih dapat dilakukan 40 menit sebelum dan sesudah waktu yang ditentukan, dengan toleransi setengah derajat.

Keterangan astronom tentang fenomena terkait

Dalam laporan terpisah, para astronom menyampaikan kepada Alarabiya bahwa Nadir Ka'bah sebelumnya terjadi pada 28 Januari di Mekkah. Disebutkan pula, pada hari Kamis pukul 12.43 waktu setempat, masyarakat Mekkah dapat melihat bulan purnama yang muncul secara vertikal di atas Masjidil Haram.

Presiden Asosiasi Astronomi Jeddah, Majed Abu Zahira, menjelaskan bahwa bulan akan terbit bersamaan dengan Matahari terbenam dari ufuk utara/timur laut dan terbenam di ufuk utara/barat laut. Ia juga menyebut bulan akan tetap terlihat di langit hingga terbenam saat Matahari terbit pada Jumat.

Abu Zahira menambahkan, fenomena langit tersebut dapat digunakan untuk menemukan arah kiblat secara sederhana dari sejumlah wilayah di dunia. Menurutnya, umat Islam di lokasi geografis yang jauh dari Masjidil Haram dapat mengandalkan arah bulan yang menunjuk ke Mekkah, dengan tingkat akurasi yang sebanding dengan aplikasi ponsel pintar.