Etika dan Adab Konten Kreator di Era Viral dan Cuan
KONTEN KREATOR: ADAB DAN ETIKA DI TENGAH HARAPAN VIRAL DAN CUAN
Di masa lalu, pertanyaan sederhana seperti "Apa cita-citamu?" sering dijawab dengan profesi yang mapan dan terstruktur: dokter, pilot, guru, polisi, atau tentara. Profesi-profesi itu identik dengan pendidikan formal, proses panjang, dan jalur karier yang jelas. Namun, lanskap zaman telah berubah. Hari ini, terutama di kalangan Generasi Milenial, Gen Z, bahkan Gen Alpha, jawaban yang kerap muncul adalah: konten kreator.
Pilihan ini tentu bukan tanpa sebab. Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membuka ruang baru bagi siapa pun untuk tampil dan diakui. Di sisi lain, dunia kerja formal yang semakin kompetitif, lapangan kerja yang terbatas, serta proses rekrutmen yang berbelit membuat profesi konten kreator tampak sebagai jalan alternatif yang menjanjikan. Tanpa perlu surat lamaran, tanpa seleksi administrasi yang panjang, cukup membuat akun media sosial, mengaktifkan fitur monetisasi seperti FB Pro, lalu seseorang sudah bisa menyebut dirinya sebagai konten kreator.
Dalam praktiknya, posisi konten kreator pun beragam. Bagi sebagian orang, menjadi konten kreator adalah pekerjaan utama. Hidup dan kebutuhan sehari-hari bergantung pada performa konten, jumlah penonton, interaksi, serta konsistensi unggahan. Algoritma menjadi "atasan" baru yang harus ditaklukkan setiap hari. Namun, bagi sebagian lainnya, konten kreator hanyalah pekerjaan sampingan, alternatif untuk menambah penghasilan di luar pekerjaan utama. Dua posisi ini sama-sama sah, tetapi sama-sama memiliki konsekuensi: tuntutan produktivitas, kreativitas, dan ketahanan mental yang tidak ringan.
Fenomena ini semakin menguat ketika publik disuguhi kisah sukses para selebritas media sosial. Dari selebgram, YouTuber, hingga TikToker, banyak yang menjelma menjadi figur publik dengan pendapatan fantastis. Viral menjadi kata kunci. #FYP menjadi target. Cuan menjadi tujuan. Ketika seorang konten kreator telah dikenal luas, pintu-pintu lain pun terbuka: undangan podcast, talkshow, acara live, hingga tawaran endorse dengan bayaran yang terus meningkat seiring popularitas.
Menariknya, dunia konten hari ini relatif "tanpa pagar". Tidak harus sekolah perfilman, memahami skenario secara mendalam, atau menguasai public speaking secara profesional. Modal utama sering kali cukup keberanian, kreativitas, keunikan, bahkan kenekatan. Standar rasa malu pun kerap diturunkan. Sesuatu yang dulu dianggap tidak pantas ditampilkan, kini justru menjadi daya tarik. Media sosial telah menghapus banyak batas, sekaligus membuka jalan instan menuju popularitas.
Bahkan, praktik mengontenkan aktivitas kini tidak hanya dilakukan individu atau kreator independen. Para pejabat publik dan kepala daerah pun aktif mengemas aktivitasnya dalam bentuk konten, tentu melalui tim media dan humas yang profesional. Kegiatan kunjungan lapangan, rapat, penyaluran bantuan, hingga peresmian proyek didokumentasikan dan disebarluaskan melalui media sosial. Dalam konteks politik, konten menjadi alat untuk menunjukkan bahwa janji kampanye benar-benar dijalankan. Sekaligus, secara sadar atau tidak, konten juga berfungsi menjaga, membangun, dan memoles citra di mata masyarakat. Realitas ini menunjukkan bahwa konten telah menjadi instrumen komunikasi kekuasaan dan legitimasi publik.
Akibatnya, gawai kita dibanjiri ribuan video singkat berdurasi 30 detik. Isinya beragam: ada yang mendidik, menghibur, dan inspiratif, tetapi tidak sedikit pula yang provokatif, sensasional, bahkan bermasalah. Aib pribadi dikonsumsi publik, konflik keluarga dijadikan tontonan, isu sensitif dikemas demi klik dan komentar. Dari bangun tidur hingga kembali tidur, hampir seluruh aspek kehidupan manusia kini bisa dikontenkan. Privasi seolah menjadi komoditas murah yang dipertukarkan dengan atensi.
Di sinilah muncul fenomena "yang penting ngonten". Pertimbangan adab, etika, dan dampak sosial sering kali dikesampingkan. Yang penting viral. Yang penting ramai. Yang penting cepat menghasilkan uang. Persaingan yang kian ketat antarkonten kreator pun melahirkan praktik-praktik tidak etis, seperti mencuri konten orang lain, memelintir fakta, atau sengaja memancing kontroversi demi interaksi.




