DPR Panggil Mendikdasmen Usai Tragedi Siswa SD di NTT
Sumber Foto: Tempo.co
Sosial

DPR Panggil Mendikdasmen Usai Tragedi Siswa SD di NTT

WAKIL Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal meminta pengusutan mendalam di balik tragedi meninggalnya siswa sekolah dasar asal Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis, 29 Januari 2026.

"Terkait siswa SD di NTT yang meninggal, kemarin Komisi X sudah saya perintahkan untuk segera melakukan pengusutan pendalaman, terutama ke Mendikdasmen (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah)," kata Cucun di Yogyakarta, Sabtu 7 Februari 2026.

Cucun menyayangkan peristiwa nahas itu. Terlebih beredar narasi korban mengakhiri hidup karena kesulitan mendapatkan peralatan sekolah karena birokrasi fasilitas yang berbelit dan beban yang ditanggung anak didik. "Seharusnya tidak ada lagi, misalkan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada anak didik," ujar Cucun.

Cucun mempertanyakan mengapa kendala biaya perlengkapan sekolah masih menjadi beban berat bagi siswa. Padahal pemerintah menyatakan telah mengalokasikan berbagai skema bantuan.

Ia menekankan bahwa dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hingga Program Indonesia Pintar (PIP) seharusnya sudah mampu menjangkau siswa yang membutuhkan. Sehingga hal-hal administratif semestinya tidak lagi menjadi penghalang bagi anak didik mendapat fasilitas untuk mengenyam pendidikan. "Bahkan sekarang (bantuan itu) bukan hanya sampai SD, di PAUD (pendidikan anak usia dini) saja bantuan operasional juga sudah ada, untuk PIP-nya segala macam," kata dia.

Ia pun mempertanyakan apakah persoalan ini berawal dari keluarga atau masalah di sekolah. "Kalau misalkan masalahnya di sekolah, saya sudah minta Komisi X untuk segera memanggil Dikdasmen serta strukturnya sampai di bawah," kata dia.

Dia meminta kejadian seperti di NTT tidak boleh terulang apapun alasannya. "Jangan ada anak bangsa yang merasa termarjinalkan, merasa terpinggirkan karena tidak memiliki apa-apa," kata Cucun.

Kasus siswa di NTT itu, dinilai menjadi potret kelam kesenjangan akses pendidikan di daerah pelosok.

Cucun menyatakan untuk mencegah peristiwa ini berulang pihaknya meminta tidak hanya berhenti pada klarifikasi berbagai pihak. Tetapi juga perbaikan distribusi bantuan pendidikan agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali di tanah air.

Sebelumnya, siswa berusia 10 tahun berinisial YBR, asal Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di pohon cengkeh pada Kamis, 29 Januari 2026.

Bocah tersebut diduga nekat mengakhiri hidupnya karena merasa kecewa tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah.

Tragedi memilukan ini memicu reaksi keras dari parlemen di Senayan.

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena dalam unggahanya di media sosial secara terbuka mengakui adanya kegagalan sistemik dalam struktur pemerintahan dan sosial di wilayahnya.

Melki menyebut peristiwa ini sebagai alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat di NTT.

"Pranata sosial kita berarti gagal urus model begini. Pemerintahan kita juga gagal. Provinsi sama, Kabupaten Ngada juga sama. Kita punya pranata agama juga gagal, pranata budaya juga gagal sampai ada orang mati karena miskin begini," kata Melki.