Dampak Monetisasi Facebook Pro Terhadap Kualitas Konten dan Misinformasi
Ai Ilustrasi
Kabarprima.com Fenomena konten sensasional di media sosial kembali menjadi perhatian publik. Maraknya konten di Facebook Pro (FB Pro) yang dinilai semakin agresif dalam mengejar cuan, mulai dari penggunaan hoaks berbasis kecerdasan buatan (AI) hingga eksploitasi peristiwa duka demi meningkatkan engagement.
Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa sejumlah konten berbasis AI diproduksi seolah-olah sebagai peristiwa nyata, padahal merupakan rekayasa digital. Selain itu, terdapat pula unggahan yang memanfaatkan tragedi atau peristiwa emosional untuk menarik simpati dan interaksi pengguna. Pola ini memperlihatkan bagaimana monetisasi dapat mendorong kreator memprioritaskan jumlah tayangan, komentar, dan share dibandingkan akurasi atau nilai edukatif konten.
Fenomena tersebut selaras dengan temuan akademik dalam Visioner: Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreator Vol. 12 No. 1 Februari 2025 berjudul Monetisasi Konten dan Perubahan Kualitas di Facebook: Studi atas Dampak Facebook Pro karya Teguh Setiawan I.S dan Vania Sekar Widyadari. Penelitian ini mengkaji perubahan pola produksi konten setelah kreator mengikuti program monetisasi FB Pro.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap enam kreator aktif, penelitian menemukan bahwa terjadi pergeseran motivasi dari orientasi ekspresi dan hobi menjadi orientasi pendapatan. Kreator cenderung menyesuaikan konten dengan algoritma platform demi mempertahankan jangkauan dan memenuhi syarat monetisasi seperti jam tayang dan tingkat interaksi .
Penelitian tersebut juga mencatat adanya peningkatan frekuensi unggahan setelah kreator bergabung dengan FB Pro. Namun peningkatan kuantitas ini tidak selalu diiringi peningkatan kualitas. Bahkan, dalam beberapa kasus terjadi homogenisasi tema serta kecenderungan membuat konten yang mengikuti tren viral atau sensasional demi mengejar performa algoritma .
Dalam kerangka Teori Agenda Setting yang digunakan dalam penelitian, algoritma platform dapat berperan sebagai penentu visibilitas isu. Konten yang mendapatkan interaksi tinggi akan lebih sering muncul di beranda pengguna, sehingga memengaruhi persepsi publik mengenai isu apa yang dianggap penting .
Sementara itu, melalui perspektif Teori Ekonomi Media, monetisasi dipahami sebagai bentuk komodifikasi konten, di mana nilai utama suatu unggahan diukur dari potensi ekonominya. Konten bukan lagi sekadar medium komunikasi, tetapi menjadi komoditas yang diproduksi untuk menghasilkan pendapatan .
Kombinasi antara tekanan algoritma, sistem monetisasi berbasis engagement, serta rendahnya literasi digital masyarakat membuka ruang bagi berkembangnya konten yang manipulatif atau menyesatkan. Survei Digital News Report 2025 dari Reuters Institute mencatat lebih dari 40 persen pengguna internet Indonesia mengaku pernah menemukan informasi yang mereka yakini keliru atau menyesatkan di media sosial dalam satu tahun terakhir. Data ini menunjukkan bahwa persoalan misinformasi masih menjadi tantangan besar di ruang digital.
Di sisi lain, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024 menunjukkan kemampuan verifikasi informasi pengguna internet Indonesia masih perlu ditingkatkan. Kondisi ini mempercepat penyebaran konten sensasional, termasuk hoaks berbasis AI yang kian sulit dibedakan dari konten asli.
Temuan penelitian dalam jurnal Visioner tersebut menyimpulkan bahwa monetisasi Facebook Pro memang membuka peluang ekonomi baru bagi kreator, namun juga membawa konsekuensi terhadap kualitas dan integritas konten digital . Tanpa keseimbangan antara kepentingan finansial dan tanggung jawab sosial, ruang digital berpotensi dipenuhi produksi massal yang dangkal dan minim verifikasi.
Fenomena konten sensasional di FB Pro pada akhirnya bukan sekadar persoalan kreator atau platform semata, melainkan cerminan dinamika ekonomi digital yang semakin kompetitif. Di tengah peluang besar monetisasi, kualitas informasi dan etika digital tetap menjadi fondasi penting agar ruang publik daring tidak kehilangan kepercayaan masyarakat.
Berita Pilihan
Brilliant Brain Indonesia, Sukses Laksanakan Inagurasi 1
Astaga, Bangkai Ayam Ratusan Ekor Dibuang di Pinggir Jalan Gunung Potong
Diduga Menghina Talaud, Wali Kota Manado Dipolisikan
Tiang Listrik Jadi Korban Politik di Manado
Lambat Mengungkap Kasus Kematian Seorang Jurnalis, AJI Manado Duga “Ada Keterlibatan Orang Besar”.
Meskipun Mulai Membaik, Namun Kualitas Udara Jakarta Masih Dikategorikan Tidak Sehat
BBI Pusat Sarapung, Sukses Laksanakan Try Out Pertama. Ini Harapan CEO
Viral, Siswa Peraih Juara 1 Renang di Tomohon, Kecewa Tidak Ikut Lomba O2SN Tingkat Provinsi
Berita Terbaru
The Great Purge of 2026: Instagram Akui Bersihkan Akun Tidak Aktif, Follower Bisa Turun Drastis
Literasi Digital dan Perlindungan Anak Jadi Fokus PP TUNAS
Waspada Penyakit Hantavirus, Kemenkes Sebut Risiko Penularan Pada Aktivitas Alam Terbuka
Waspada! Hipertensi Kini Mengintai Anak-anak, Kenali Pemicunya Sebelum Terlambat
8 Kepribadian di Balik Layar: Kenapa Chat Lebih Dipilih daripada Telepon?
Terlalu Lama Sendirian Bisa Berdampak pada Jantung dan Otak
Mengenal Indeks Prestasi Yang Mengukur Penilaian Hasil Perkuliahan Mahasiswa
TKA Jadi Syarat Masuk Sekolah Pada Jalur Prestasi
Komentar
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Comment *
Name *
Email *
Website
Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.




