Bimbingan Teknis Pemandu Sejarah Konstitusi Tingkatkan Public Speaking dan Historytelling
JAKARTA, HUMAS MKRI – Dalam rangka menambah wawasan dan pengetahuan tentang sejarah lahirnya dan perkembangan konstitusi, sejarah MK, serta kemampuan dalam public speaking dan historytelling, Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan Mahkamah Konstitusi menggelar kegiatan Bimbingan Teknis Kepemanduan Pusat Sejarah Konstitusi pada Rabu (27/8/2025).
Pada kesempatan ini para peserta bimtek akan mendapatkan materi mengenai Sejarah Lahirnya dan Perkembangan Konstitusi dan Sejarah Mahkamah Konstitusi dari Perspektif Ketatanegaraan. Ketua MK Periode 2003–2008 Jimly Asshiddiqie selaku narasumber materi ini mengatakan, dalam tonggak pendirian negara, UUD 1945 yang dibuat oleh para pendiri bangsa merupakan hal yang harus disyukuri dan dipahami sebagai sesuatu yang tidak sempurna. Sehingga, sangat wajar apabila di masa selanjutnya dilakukan penyempurnaan atau perubahan terhadap pasal-pasal yang ada di dalamnya. Termasuk norma yang terkait dengan ketentuan pendirian Mahkamah Konstitusi.
“Pada hakikat keberadaannya, MK merupakan lembaga yang berperan dalam mengawal demokrasi, penafsir konstitusi, pelindung hak minoritas, dan pelindung hak asasi manusia serta hak konstitusional warga negara,” kata Jimly menyimpulkan peran MK sejak awal berdirinya hingga saat ini.
Filosofi Sembilan Pilar
Pada sesi diskusi, salah seorang Penyuluh Hukum menanyakan terkait referensi dari filosofi sembilan pilar dan ketiadaan pagar gedung MK. Hal ini sering menjadi pertanyaan para pengunjung MK. Jimly pun menjawab bahwa sembilan pilar Gedung MK merupakan representasi para hakim konstitusi yang harus memegang teguh independensinya dalam memutus perkara.
“Guna menjaga hal tersebut, antara hakim dilarang saling mempengaruhi dan setiap hakim wajib memiliki pendapatnya. Setiap hakim harus mendalami kasus dan ide yang terdapat di balik undang-undang. Setiap hakim adalah institusi yang berdiri sendiri,” jawab Jimly.
Teknik Historytelling dan Public Speaking
Para peserta diajak juga untuk menyimak historytelling dan public speaking serta praktik sebagai Pemandu yang disampaikan oleh Ariyo Zidni dan Bintang Cahya, yang merupakan pendongeng Indonesia dan pendiri Kelas Penyiar Indonesia. Mengawali paparan, Ariyo dalam materi berjudul “ Historytelling Cerita Sejarah yang Singkat dan Bermakna”, mengajak para peserta bimtek untuk mempraktikkan metode sederhana dalam mengawali bercerita tentang kisah sejarah, namun singkat, bermakna, dan tetap menarik. Pada dasarnya, sambung Ariyo, historytelling dapat dilakukan semua orang. Namun bagian penting dari menyampaikan sesuatu dalam ber-historytelling adalah passion yakni dengan tekni k kuasai dan sukai.
“Jika ingin menjadi pemandu, maka kuasai kontennya, pilih materi yang akan disampaikan, dan dari banyaknya materi yang ada, carilah yang paling disukai. Sehingga, akan terdapat pembeda dan hal yang menarik bagi para pengunjung dari cerita yang ingin disampaikan tersebut,” terang Ariyo.
Sementara itu, Bintang Cahya mengajak para peserta bimtek untuk memahami teknik mengubah kata jadi makna dengan menggunakan verbal-vokal–visual. Hal ini dapat dipraktikkan ketika memaparkan materi, misalnya tentang dasar hukum Indonesia dan sejarah konstitusi. Pada intinya ketika membawakan skrip, seorang pemandu perlu menekankan pada power suara, hand gesture, intonasi, dan artikulasi yang sesuai.
Penulis: Sri Pujianti.




